Internasional>Timur Tengah

Akhirnya Dua Tokoh Katholik dan Syiah Bertemu di Najaf Irak

Akhirnya Dua Tokoh Katholik dan Syiah Bertemu di Najaf Irak

RUANGTENGAH.co.id, Baghdad - Dalam kunjungannya ke Irak, Jumat (5/2), Paus Fransiskus menjadikan pertemuannya dengan tokoh kharismatik Syiah, Ayatollah Ali Sistani sebagai salah satu agenda utama. Pertemuan bersejarah itu akhirnya terwujud di hari kedua kunjungan Paus di Irak yaitu pada Sabtu pagi (6/2) di kediaman Sistani yang sederhana di kota Najaf, Irak.

Kunjungan Paus Fransiskus kepada Ali Sistani sekaligus menjadi simbol uluran tangan persahabatan kepada kaum Syiah dunia. Pertemuan yang menjadi momen penting dalam sejarah agama modern.

Paus mendarat di bandara Najaf. Kedatangannya disambut poster besar bertuliskan kalimat terkenal Ali bin Abi Thalib, "Orang-orang terdiri dari dua jenis; saudara seiman atau saudara dalam kemanusiaan.”

Dari bandara, rombongan konvoi kendaraan yang membawa Paus langsung menuju Kota Tua dengan pengawalan sangat ketat. Tiba di depan sebuah gang kecil, Paus melanjutkan dengan berjalan kaki menuju sebuah pintu yang merupakan bagian dari rumah Ali Sistani.

Tidak ada pers yang diizinkan hadir dalam pertemuan tersebut karena Ali Sistani yang berusia 90 tahun itu sangat tertutup dan hampir tidak pernah terlihat di depan umum.

Kunjungan Paus ini menjadi salah satu hal paling menarik dari kunjungan empat harinya di Irak. Dan butuh persiapan berbulan-bulan untuk mewujudkan pertemuan bersejarah kedua tokoh agama yang sangat berpengaruh ini.

Sistani sendiri telah memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan di Irak dalam beberapa dekade terakhir.

“Kami merasa sangat bahagia atas pertemuan ini dan kami sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga pertemuan ini bisa tercapai,” kata Mohamed Ali Bahr al Ulum, seorang ulama senior di Najaf.

Otoritas Moral yang Tinggi

Paus Fransiskus merupakan sosok yang sangat getol mengkampanyekan perdamaian dan persaudaraan antar manusia. Sebelumnya, ia telah bertemu dengan ulama-ulama Sunni di beberapa negara mayoritas Muslim, seperti Bangladesh, Maroko, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Sementara itu, Sistani merupakan tokoh yang diikuti oleh sebagian besar dari 200 juta kaum Syiah di dunia, kaum minoritas di antara Muslim tetapi mayoritas di Irak. Sistani juga merupakan tokoh nasional bagi warga Irak.

"Ali Sistani adalah pemimpin agama dengan otoritas moral yang tinggi," kata Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, kepala Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan spesialis studi Islam.

Sistani memulai studi agamanya pada usia lima tahun. Kedudukannya di tengah umat Syiah naik dari jajaran ulama menjadi ayatollah agung pada tahun 1990-an.

Ketika Saddam Hussein berkuasa, dia mendekam dalam tahanan rumah selama bertahun-tahun. Sebelum kemudian muncul setelah invasi pimpinan AS menggulingkan rezim pada 2003 untuk memainkan peran publik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 2019, dia bergerak bersama pengunjuk rasa Irak untuk menuntut layanan publik yang lebih baik dan menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Irak.

Sistani memiliki hubungan yang rumit dengan tempat kelahirannya di Iran, di mana pusat otoritas keagamaan Syiah terletak yaitu kota Qom.

Sementara Najaf menjadi pusat gerakan Syiah yang menegaskan pemisahan agama dan politik. Berbeda dengan Qom yang memposisikan ulama tertinggi mereka yaitu Ayatollah Ali Khamenei juga harus memegang peran sentral dalam politik dan pemerintahan.

Antara Najaf dan Qom

Para ulama Irak dan pemimpin Kristen mengatakan kunjungan Paus Fransiskus ke Najaf ini dapat memperkuat posisi Najaf dibandingkan dengan Qom.

"Sekolah Najaf memiliki prestise yang tinggi dan lebih sekuler daripada sekolah Qom yang lebih religius," kata Ayuso.

"Najaf lebih menekankan pada urusan sosial," tambahnya.

Di Abu Dhabi pada 2019, Paus bertemu dengan Ahmed Al Thayyeb, imam besar Al Azhar di Kairo dan otoritas utama Muslim Sunni.

Mereka menandatangani dokumen persaudaraan kemanusiaan yang mendorong lebih maju dialog Kristen-Muslim. Paus mengharapkan agar Ali Sistani juga mendukung kampanye tersebut. Tetapi sebuah sumber ulama di Najaf mengatakan kepada AFP bahwa itu tidak mungkin.

Sementara Paus telah disuntik vaksin Covid 19 dan mendorong lebih banyak orang untuk mau mendapatkan suntikan, sedangkan kantor Sistani belum mengumumkan vaksinasi tersebut.

Irak saat ini dicengkeram oleh ledakan kasus virus Covid 19. Tercatat lebih dari 5.000 infeksi dan lebih dari dua lusin kematian setiap hari.

Setelah kunjungannya ke Sistani, Paus akan menuju ke situs gurun di kota kuno Ur yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. (RUTE/AA/ALARABY)

Tags: -

0 Komentar :

Belum ada komentar.