Internasional

Al Azhar : Waspada, Islamofobia Kini Terstruktur dan Sistematis

Al Azhar : Waspada, Islamofobia Kini Terstruktur dan Sistematis

RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Observatorium Al-Azhar untuk Pemberantasan Ekstremisme memperingatkan bahwa Islamofobia saat ini tidak lagi sekadar prasangka pribadi atau reaksi emosional individu, melainkan telah berkembang menjadi sebuah sistem yang terstruktur, sistematis dan mengakar dalam tatanan global. Hal ini disampaikan dalam laporan terbaru yang dikutip oleh Al-Ahram.

 

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa Islamofobia kini dikelola secara sistematis melalui narasi politik dan keamanan, terutama pada masa krisis dan perubahan geopolitik besar.

 

Ketakutan terhadap Islam dibentuk dan diarahkan untuk membangun citra negatif tentang “pihak lain”, bukan muncul secara alami dari pengalaman sosial sehari-hari.

 

Observatorium Al-Azhar yang berpusat di Kairo ini menegaskan bahwa memandang Islamofobia semata sebagai kebencian individu justru menutupi persoalan utamanya. Sebab, fenomena ini kerap dimanfaatkan secara politis untuk membenarkan kebijakan eksklusif, memperketat tindakan diskriminatif, serta mengabaikan prinsip pluralisme dan hak-hak sipil.

 

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa berbagai kajian lembaga pemikir di Barat menunjukkan persepsi negatif terhadap Islam sebagian besar dibentuk oleh media dan wacana politik, bukan dari interaksi langsung dengan umat Muslim.

 

Narasi yang terus diulang ini berperan besar dalam menanamkan dan memelihara rasa takut di tengah masyarakat.

 

Namun demikian, Al-Azhar menilai bahwa pendekatan yang selama ini menempatkan umat Muslim semata sebagai korban Islamofobia belum membuahkan hasil nyata.

 

Bahkan, dalam beberapa kasus, pendekatan ini tanpa disadari justru memperkuat citra umat Islam sebagai pihak yang pasif. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok sayap kanan ekstrem untuk memperuncing polarisasi “kami versus mereka” dan menggalang ketakutan kolektif.

 

Karena itu, Observatorium Al-Azhar menegaskan bahwa melawan Islamofobia tidak cukup hanya dengan kecaman moral.

 

Diperlukan pendekatan yang lebih strategis dan efektif, dimulai dengan membongkar kerangka berpikir yang melahirkan wacana eksklusif, mengaktifkan perangkat hukum yang menghukum diskriminasi berbasis agama, serta membangun aliansi politik dan sosial yang luas untuk membela nilai pluralisme dan kesetaraan kewargaan.

 

Menutup laporannya, Observatorium Al-Azhar menekankan bahwa menghadapi Islamofobia adalah proyek jangka panjang. Upaya ini tidak cukup hanya dengan meninggikan suara korban, melainkan harus diwujudkan melalui perubahan nilai menjadi kebijakan, hak menjadi undang-undang, serta protes menjadi dampak kelembagaan yang nyata, demi memutus mata rantai eksklusi dan membangun ruang publik yang lebih adil dan inklusif. [RUTE/AHRAM]

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.