RUANGTENGAH.co.id, Jakarta - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI menyampaikan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang masih buta aksara telah mengalami penurunan.
Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek, Baharudin, mengutarakan bahwa penurunan angka buta aksara di Indonesia adalah karena kerjasama para pemangku kebijakan di Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa sinergi, kerja sama, dan kolaborasi antar pihak terkait, termasuk kepedulian pemerintah daerah dalam memberantas buta aksara cukup berhasil,” kata Baharudin, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek.
Dilansir Antara, ada enam strategi pemerintah dalam menurunkan angka buta aksara. Yang pertama dengan mengembangkan kurikulum dan modul pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar dan lanjutan.
Kedua, mendampingi pelaksanaan program pemberian Bantuan Operasional Pendidikan Keaksaraan. Ketiga, pemanfaatan platform Merdeka Mengajar yang menyediakan pelatihan. Keempat, pendistribusian buku bacaan ke berbagai daerah.
Kelima, penyediaan sarana pembelajaran literasi untuk anak berkebutuhan khusus. Dan keenam, penambahan sarana dan kegiatan literasi pada taman bacaan masyarakat.
Menurut data Survey Social Ekonomi National (Susenas) than 2023, angka buta aksara pada masyarakay berusia 15 sampai 59 tahun turun sekitar 0,43% yatu dari 2,85 juta orang menjadi 1,95 juta orang. Tren penurunan ini ditargetkan terus terjadi pada tahun 2024 hingga tahun 2030.
Penurunan angka buta aksara ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidikan.
Adapun sebaran daerah dengan angka buta aksara tertinggi adalah Papua 15,78%, Nusa Tenggara Barat (NTB) 10,98%, Jawa Timur 6,30%, Sulawesi Selatan 6,17% dan Sulawesi Barat 5,67%.
Sedangkan sebaran daerah dengan angka buta hurus paling rendah adalah Kalimantan Timur 0,99%, Kalimantan Tengah 0,97%, Kepulauan Riau 0,95%, Sumatera Utara 0,83% dan Riau 0,85%. [RUTE/ANTARA]
0 Komentar :
Belum ada komentar.