Internasional

Astronot Muslim Pembawa Al-Quran ke Luar Angkasa Wafat di Usia 67

Astronot Muslim Pembawa Al-Quran ke Luar Angkasa Wafat di Usia 67
Astronot Muslim asal Afghanistan, Abdul Ahad Momand. (Gambar : Iqna)

RUANGTENGAH.co.id, Stuttgart - Dunia kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah eksplorasi antariksa. Astronot Muslim asal Afghanistan, Abdul Ahad Momand, meninggal dunia pada usia 67 tahun, meninggalkan jejak bersejarah yang menginspirasi banyak orang.

Momand dikenal luas setelah mencetak sejarah pada tahun 1988, ketika ia membawa salinan Al-Quran dalam misinya ke stasiun ruang angkasa Mir milik Uni Soviet. Selama berada di luar angkasa, ia bahkan sempat membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, sebuah momen yang menarik perhatian dunia saat itu.

Tak hanya itu, dalam misi yang sama, ia juga melakukan panggilan telepon kepada ibunya dari luar angkasa. Peristiwa ini menjadikan bahasa Pashto sebagai bahasa keempat yang pernah digunakan di luar angkasa. Saat itu, Momand berusia 29 tahun.

Perjalanan Karier dan Pendidikan

Abdul Ahad Momand lahir pada tahun 1959 di desa Sardi, Provinsi Ghazni, Afghanistan. Ia menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya sebelum melanjutkan studi ke Kabul. Di ibu kota, ia bergabung dengan Institut Politeknik, yang kemudian membawanya melanjutkan pelatihan penerbangan di Uni Soviet.

Setelah menyelesaikan pelatihannya, ia kembali ke Afghanistan dan bertugas sebagai pilot Angkatan Udara di Pangkalan Udara Bagram pada periode 1981 hingga 1984.

Kariernya terus berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Institut Teknik Penerbangan Kiev dan berhasil lolos seleksi sebagai bagian dari kelompok pilot Afghanistan untuk program penerbangan luar angkasa.

Pada 29 Agustus 1988, Momand resmi terbang ke stasiun Mir. Ia kembali ke Bumi pada 7 September 1988. Awalnya misi tersebut direncanakan berlangsung selama delapan hari, namun diperpanjang satu hari akibat kendala teknis yang akhirnya berhasil diatasi.

Wafat di Jerman dan Warisannya

Setelah menyelesaikan misinya, Momand tetap aktif dalam bidang ilmiah dan pemerintahan. Ia sempat melanjutkan studi di Moskow, bekerja di Akademi Ilmu Pengetahuan Afghanistan, serta menjabat sebagai Wakil Menteri Penerbangan dan Pariwisata untuk urusan teknis.

Namun, situasi perang saudara di Afghanistan pada tahun 1992 memaksanya meninggalkan tanah air. Bersama keluarganya, ia pindah ke Jerman dan menetap di Stuttgart. Di sana, ia bekerja di sektor swasta sekaligus terlibat dalam penelitian di Pusat Penelitian Antariksa Universitas Stuttgart.

Momand menghabiskan sisa hidupnya di Jerman bersama istri dan tiga anaknya hingga akhir hayat. Kepergiannya meninggalkan warisan penting dalam dunia sains dan sejarah, sekaligus menjadikannya sebagai salah satu tokoh Afghanistan paling berpengaruh dalam bidang eksplorasi ruang angkasa. [RT/IQNA]

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.