RUANGTENGAH.co.id, Gaza City - Ada jarak yang begitu jauh antara dua foto Mujahid Bani Mufleh, sebelum dan sesudah ia keluar dari penjara Israel. Jarak itu bukan sekadar perubahan fisik, melainkan luka yang menembus tubuh, jiwa, dan hidupnya.
“Sakit rasanya melihat foto diri saya yang dulu,” ujarnya lirih.
Mujahid, seorang jurnalis Palestina dari kota Beita, dekat Nablus, masuk penjara sebagai pria berusia 36 tahun yang masih cukup sehat. Ia memang mengidap diabetes, tetapi tubuhnya kuat, pikirannya jernih, dan suaranya lantang.
Enam bulan kemudian, ia keluar sebagai sosok yang nyaris tak dikenali: tubuhnya kurus dan lemah, wajahnya cekung, matanya sayu, dan usianya seolah bertambah puluhan tahun. Ia ditahan tanpa dakwaan. Tanpa pengadilan. Tanpa kepastian kapan akan dibebaskan.
“Pertahanan saya runtuh di bawah penyiksaan dan penghinaan,” katanya dari ranjang rumah sakit. “Mereka ingin Anda lupa siapa diri Anda,” sambungnya.
Dua hari setelah menghirup udara bebas, tubuhnya akhirnya menyerah. Ia mengalami pendarahan otak hebat yang berujung stroke. Dokter harus melakukan operasi darurat, mengangkat sebagian tengkoraknya demi menyelamatkan nyawanya. Ia terbaring koma selama dua bulan.
Hari ini, ia masih berjuang untuk pulih, perlahan, tertatih, dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar hilang darinya: jati dirinya sebagai jurnalis.
Suara yang Hampir Hilang, Kisah yang Tak Boleh Diam
Selama di dalam penjara, di tengah rasa sakit, kelaparan, dan penghinaan, Mujahid memegang satu harapan, bahwa suatu hari ia akan menceritakan kisah mereka yang tak lagi punya suara.
“Saya tidak pernah lupa bahwa saya seorang jurnalis,” katanya. “Saya terus berpikir, suatu hari saya akan menyampaikan kisah mereka yang tak bisa lagi berbicara,” imbuhnya. Namun takdir berkata lain.
“Sebelum saya sempat menuliskannya, saya terkena stroke. Dan akhirnya, bukan saya yang menulis kisah itu—saya justru menjadi kisah itu sendiri.”
Mujahid ditangkap di rumahnya pada 28 Juni 2025 dan ditempatkan dalam penahanan administratif. Tanpa dakwaan, tanpa proses hukum terbuka, dan tanpa kepastian kapan akan bebas.
Di dalam penjara, ia mengalami penyiksaan fisik dan psikologis, kelaparan, serta pengabaian medis. Hingga kini, ia masih berbicara dengan perlahan. Kata-kata sering tersendat, seolah ia sedang belajar kembali merangkai kalimat.
Namun di balik keterbatasan itu, ia membawa amanah: menyuarakan mereka yang telah tiada. Ia mengingat temannya, Samir al-Rifai.
“Kami disiksa setelah kembali dari pengadilan. Tubuhnya tak mampu lagi menahan semuanya,” kenangnya.
“Suatu hari, penjaga menyemprotkan gas merica ke dalam sel. Samir pingsan. Mereka membawanya pergi… dan dia tidak pernah kembali. Kami kemudian mendengar dia meninggal,” lanjutnya.
Ia juga tak melupakan Ahmad Taza’zah, pemuda 20 tahun.
“Mereka melepaskan anjing ke arahnya. Wajahnya tercabik. Luka itu terinfeksi. Ia hanya butuh antibiotik, tapi tidak diberikan,” ujarnya. “Dia muntah terus-menerus. Lalu dibawa pergi… dan tidak pernah kembali hidup.”
Kisah-kisah itu kini hidup dalam ingatannya, menunggu untuk disampaikan.
Belajar Ulang Makna Hidup dari Luka
Di tengah gelapnya penjara, ada satu cahaya yang ia genggam erat: wajah putranya yang masih kecil. Sementara di rumah, keluarganya menunggu dengan harap dan cemas. Istrinya, Nuha al-Shurfa, menyaksikan perubahan besar pada diri suaminya.
“Ketika ia pulang, rasanya seperti keluarga kami hidup kembali,” katanya. “Tapi ia kembali dalam kondisi sangat lemah. Berat tubuhnya berkurang sekitar 25 kilogram.”
Selama di penjara, meski mengidap diabetes, Mujahid tidak mendapatkan perawatan medis yang layak. Hingga kini, tubuhnya masih rapuh. Bahkan untuk minum air pun, ia harus berhati-hati, khawatir memperburuk kondisinya.
“Kami tahu pemulihannya masih panjang,” ujar Nuha. “Tapi kami bersyukur dia kembali. Dan kami akan terus mendampinginya.”
Bagi keluarganya, kesembuhan hadir dalam hal-hal kecil: satu kata yang lebih jelas, satu langkah tanpa bantuan, satu hari dengan rasa sakit yang berkurang. Bagi Mujahid, semua ini mengubah cara pandangnya tentang hidup.
“Di penjara, saya belajar apa itu lapar yang sebenarnya,” katanya.
“Sepotong roti bisa menjadi mimpi. Seteguk air dingin terasa seperti anugerah.”
Kini, ia belajar tentang ketidakberdayaan.
“Bangun dari tempat tidur adalah perjuangan. Satu langkah adalah pencapaian. Bernapas tanpa rasa sakit adalah harapan. Tidur nyenyak adalah kemewahan.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan. “Semua ini mengajarkan saya bahwa berkah terbesar dalam hidup bukanlah hal-hal besar… tetapi momen-momen kecil yang dulu kita abaikan.”
Dan dari sanalah, kisahnya yang belum selesai, terus berbicara.[RUTE/MEE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.