RUANGTENGAH.co.id, Jakarta - Indonesia kembali menorehkan capaian penting dalam khazanah keislaman dengan hadirnya Mushaf Al-Qur’an tulis tangan bernama Mushaf Al-Munawwir. Di tengah dominasi teknologi digital, kehadiran mushaf yang ditulis secara manual ini dinilai sebagai karya langka sekaligus monumental.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasinya atas dedikasi para ulama dan pesantren yang terlibat dalam proses penulisan mushaf tersebut. Menurutnya, kemampuan menghadirkan mushaf tulis tangan di era modern bukan hanya prestasi teknis, tetapi juga cerminan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an.
Ia menilai karya ini sebagai pencapaian fundamental yang memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam penulisan mushaf, tetap hidup dan terjaga di tengah perubahan zaman.
“Ini prestasi yang luar biasa. Kita bisa membuat mushaf dengan tulis tangan. Mudah-mudahan ini karya fundamental kita,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Kantor Kemenag, Kamis (18/6/2026).
Kolaborasi Pesantren dan Ketelitian Sanad Keilmuan
Mushaf Al-Munawwir merupakan hasil kolaborasi para masyayikh dan pengasuh pesantren, yang digagas oleh sejumlah tokoh pesantren terkemuka. Di antaranya K.H. Hamid A. Qodir dari Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ny. Hj. Nafisah Ali dari Pesantren Krapyak, K.H. Khoirul Fuad dari Pesantren Ali Maksum, serta KH Dr. Mus’tashim Billah dari PP Pandan Aran, bersama jajaran kiai lainnya.
Sebelum dirilis ke publik, mushaf ini telah melalui proses tashih oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama, sebagai bentuk verifikasi keakuratan teks dan kesesuaian dengan standar penulisan mushaf yang diakui secara resmi.
Meski demikian, Menteri Agama tetap mendorong adanya penyempurnaan dari sisi fisik, seperti kualitas kertas dan tata letak, agar mushaf ini tidak hanya kuat secara substansi, tetapi juga unggul dalam aspek estetika dan kenyamanan pembacaan.
Expo Internasional dan Penguatan Peradaban Islam
Peluncuran Mushaf Al-Munawwir akan bertepatan dengan gelaran Expo Internasional Mushaf Al-Qur’an 37 Bahasa yang direncanakan berlangsung di Yogyakarta dan Jakarta. Agenda ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami sejarah, sanad, serta perkembangan mushaf Al-Qur’an di berbagai belahan dunia.
Pemerintah mendorong agar expo tersebut tidak sekadar menampilkan mushaf, tetapi juga menghadirkan kekayaan budaya Islam secara lebih luas.
Gagasan ini disambut oleh para pengasuh pesantren yang terlibat, dengan rencana menghadirkan berbagai elemen seperti seni Islam, miniatur mushaf dari berbagai negara, hingga artefak simbolik yang merepresentasikan sejarah peradaban Islam.
Selain pameran, rangkaian kegiatan juga akan mencakup festival seni dan budaya Islam serta simposium internasional yang mempertemukan para ulama dan pakar Al-Qur’an dari berbagai negara. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog keilmuan sekaligus penguatan jaringan global dalam bidang studi Al-Qur’an.
Melalui sinergi antara pemerintah dan pesantren, inisiatif ini tidak hanya menjadi perayaan karya, tetapi juga peneguhan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban dan literasi Islam dunia—di mana tradisi, ilmu, dan keindahan berpadu dalam satu karya bernama Mushaf Al-Munawwir. [RT/Kemenag]
0 Komentar :
Belum ada komentar.