Nasional

Kemenag Bekali 700 Penyuluh Agama Islam Keterampilan Dakwah Digital

Kemenag Bekali 700 Penyuluh Agama Islam Keterampilan Dakwah Digital
(Gambar : Kemenag)

RUANGTENGAH.co.id, Tasikmalaya - Upaya memperkuat dakwah di ruang digital terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Kali ini, sekitar 700 Penyuluh Agama Islam mendapatkan pelatihan pemanfaatan media sosial agar mampu menyebarkan pesan-pesan keagamaan secara lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

 

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Implementasi Regulasi Kepenyuluhan Tahun 2026. Kegiatan ini digelar selama tiga hari, 11–13 Februari 2026, di Aula Gedung Al-Amin, Tasikmalaya, dan diikuti oleh penyuluh se-Priangan Timur.

 

Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis Muhammad Hanafi, menegaskan pentingnya transformasi metode dakwah.

 

“Dakwah tidak cukup dilakukan secara konvensional. Penyuluh harus mampu memanfaatkan media sosial agar pesan keagamaan hadir secara relevan, menjangkau generasi muda, dan tetap otoritatif di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya saat membuka kegiatan tersebut, Rabu (11/2/2026).

 

Menurut Muchlis, ruang digital kini telah menjadi ruang publik baru yang menuntut pendekatan komunikasi yang lebih kreatif, cepat, dan adaptif, tanpa meninggalkan kedalaman keilmuan Islam. Karena itu, penguatan literasi digital bagi para penyuluh dinilai sebagai kebutuhan yang mendesak.

 

WhatsApp Image 2026-02-14 at 16.56.06.jpegPara peserta antusias mengikuti pelatihan Dakwah Digital di Tasikmalaya. (Gambar : istimewa)

 

Data Kementerian Agama menunjukkan, jumlah Penyuluh Agama Islam di Indonesia saat ini mencapai sekitar 24.831 orang. Dengan jumlah yang besar tersebut, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar kegiatan penyuluhan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

 

Muchlis juga menyampaikan bahwa penguatan kompetensi penyuluh akan terus dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pelatihan berbasis digital, pembelajaran daring, hingga pengayaan metodologi dakwah. 

 

Ia turut mengungkapkan rencana kerja sama dengan alumni Universitas Al-Azhar untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat dakwah yang moderat dan kontekstual.

 

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Islam, Jamaluddin M. Marki, menyoroti kondisi ruang digital yang dipenuhi beragam narasi keagamaan, tidak semuanya memiliki dasar keilmuan yang kuat. Karena itu, kehadiran penyuluh sebagai rujukan yang kredibel menjadi sangat penting. 

 

“Melalui pelatihan ini, penyuluh di Priangan Timur diharapkan lebih siap menghadapi tantangan dakwah di ruang digital. Model kegiatan seperti ini terbuka untuk dikembangkan di wilayah lain,” ungkapnya.

 

Para peserta pelatihan berasal dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam merespons perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin digital.

 

Dukungan juga datang dari Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) sebagai organisasi profesi yang mewadahi koordinasi penyuluh lintas wilayah di Priangan Timur.

 

Pelatihan di Tasikmalaya ini sekaligus menandai pergeseran paradigma penyuluhan, dari yang semula bertumpu pada mimbar ke pendekatan multiplatform. Ke depan, penyuluh dituntut tidak hanya piawai berbicara, tetapi juga mampu menulis konten, menyusun narasi visual, serta memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan dan relevan dengan dinamika zaman. [RUTE/KEMENAG]

0 Komentar :

Belum ada komentar.