Internasional

Kondisi Gaza Memburuk Pasca Penutupan Akses Bantuan oleh Israel

Kondisi Gaza Memburuk Pasca Penutupan Akses Bantuan oleh Israel
Anak-anak Palestina duduk di reruntuhan rumah mereka sambil menunggu waktu berbuka puasa di Jabalia, Jalur Gaza utara, Senin (10/3/2025). (Gambar : AFP)

RUANGTENGAH.co.id, Gaza City - Penghentian pengiriman makanan dan bantuan oleh Israel ke Gaza semakin memperburuk kondisi di wilayah kantong Palestina tersebut. Toko-toko roti terpaksa tutup, harga makanan melambung tinggi, dan pemutusan pasokan listrik mengancam akses air bersih bagi warga Gaza.

 

Pejabat Palestina menyatakan bahwa langkah ini berdampak serius pada kehidupan sehari-hari penduduk.

 

Israel mengklaim bahwa penghentian bantuan ini bertujuan untuk menekan kelompok militan Hamas dalam perundingan gencatan senjata. Namun, keputusan ini telah menghentikan impor makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Gaza. 

 

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa penghentian bantuan kemanusiaan ini mengancam nyawa warga sipil yang sudah kelelahan setelah 17 bulan terhimpit bebagai serangan mematikan yang brutal. Sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza bergantung pada bantuan tersebut.

 

Hamas mengecam tindakan Israel sebagai hukuman kolektif dan menegaskan bahwa mereka tidak akan dipaksa untuk membuat konsesi.

 

Toko Roti Tutup, Harga Makanan Melambung

 

Abdel Nasser Al Ajrami, ketua serikat pembuat roti Gaza, melaporkan bahwa enam dari 22 toko roti yang masih beroperasi di Gaza telah tutup karena kehabisan gas untuk memasak. 

 

“Toko roti yang tersisa mungkin akan tutup dalam seminggu atau lebih jika kehabisan solar atau tepung, kecuali Israel membuka kembali perbatasan untuk mengizinkan barang-barang masuk,” ujarnya.

 

Toko-toko roti yang masih beroperasi pun sudah tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat. Sejak pekan lalu, Israel memblokir masuknya barang ke Gaza, menyebabkan harga makanan pokok dan bahan bakar melonjak. Banyak warga terpaksa menjatah makanan mereka.

 

Gaza1.jpeg

Seorang pemuda mendorong sepeda yang penuh wadah air di luar pabrik Desalinasi Gaza Selatan, yang berhenti beroperasi setelah Israel memutus pasokan listrik ke Jalur Gaza, di Deir el Balah, Palestina, Senin (10/3/2025). (Gambar : AFP)

 

Ghada Al Rakab, seorang ibu berusia 40 tahun yang tinggal di tenda di Khan Younis setelah rumahnya hancur, mengungkapkan kesulitan yang dialaminya. 

 

“Kehidupan macam apa yang kita jalani? Tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada kehidupan yang layak. Apa lagi yang tersisa dalam hidup ini? Semoga Tuhan menjaga kita dan memberi kita ketenangan,” katanya.

 

Risiko Lingkungan dan Kesehatan

 

Serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan Gaza. Perang ini telah membuat sebagian besar penduduk Gaza hidup dalam kemiskinan dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut.

 

Perang dipicu oleh serangan lintas batas yang dipimpin Hamas ke Israel selatan, di mana serangan ini menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang, menurut data Israel. 

 

Sebagai tindakan hukuman terbaru, Menteri Energi Israel Eli Cohen menginstruksikan perusahaan listrik negara untuk menghentikan penjualan listrik ke Gaza. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menekan Hamas agar membebaskan sandera.

 

Namun, keputusan ini akan memengaruhi pabrik pengolahan air limbah yang bergantung pada listrik. Otoritas Air Palestina menyatakan bahwa operasi pabrik desalinasi air, yang menghasilkan 18.000 meter kubik air per hari untuk wilayah tengah dan selatan Gaza, terpaksa dihentikan.

 

Mohammad Thabet, juru bicara perusahaan distribusi listrik Gaza, memperingatkan bahwa keputusan ini akan membuat penduduk kehilangan akses air bersih. 

 

“Kota-kota akan terpaksa membuang air limbah ke laut, yang dapat menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan yang melampaui batas Gaza,” ujarnya.

 

Bantuan Kemanusiaan Menipis

 

Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa pasokan bantuan mereka semakin menipis, dan mereka terpaksa menjatah apa yang tersisa. 

 

“Jika ada bahan pokok seperti telur dan ayam, harganya sudah melambung tinggi dan tidak terjangkau oleh sebagian besar penduduk,” kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

 

Mereka juga khawatir bahwa kekurangan pasokan medis dan obat-obatan akan memengaruhi perawatan pasien.

 

Upaya Mediasi

 

Pertempuran di Gaza sempat dihentikan sejak 19 Januari berkat gencatan senjata. Hamas telah membebaskan 33 sandera Israel dan lima warga Thailand sebagai imbalan atas pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina. 

 

Namun, tahap awal gencatan senjata selama 42 hari telah berakhir, sementara Hamas dan Israel masih berselisih dalam isu-isu seperti tata kelola Gaza pascaperang dan masa depan Hamas.

 

Ketegangan kembali muncul setelah serangan udara Israel menewaskan tiga warga Palestina di kamp Bureij, Gaza tengah. Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang diduga mencoba menanam bahan peledak.

 

Mediator dari Mesir, Qatar, dan AS berusaha menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata. Mereka mengadakan pembicaraan dengan pemimpin Hamas dan bersiap menerima negosiator Israel di Doha pada Senin (6/3).

 

Juru bicara Hamas, Abdel Latif Al-Qanoua, menyatakan bahwa kelompoknya berkomitmen pada perjanjian bertahap awal dan berharap mediator dapat memaksa Israel untuk memulai pembicaraan tentang tahap kedua gencatan senjata. 

 

Tahap kedua ini diharapkan dapat fokus pada pembebasan sandera yang tersisa dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Namun, Israel menuntut Hamas membebaskan sandera tanpa memulai negosiasi tahap kedua. [RUTE/ARABNEWS]

0 Komentar :

Belum ada komentar.