Internasional

Paviliun Indonesia di CIBF 2026 Angkat Peran Zakat dan Wakaf sebagai Pilar Harmoni Sosial Global

Paviliun Indonesia di CIBF 2026 Angkat Peran Zakat dan Wakaf sebagai Pilar Harmoni Sosial Global
Syaikh Amr al-Wardani. (gambar : RUTE)

RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Paviliun Indonesia dalam rangkaian Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 kembali menjadi ruang penting pertukaran gagasan Islam global. Salah satu kontribusi utamanya diwujudkan melalui seminar internasional bertema Harmoni Sosial dan Pengelolaan Zakat dan Wakaf yang digelar Sabtu (24/1/2026) di kawasan Egypt International Exhibition Center (EIEC), Kairo.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari program intelektual Indonesia di pameran buku terbesar kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, sekaligus menegaskan peran Indonesia dalam memperkenalkan praktik zakat dan wakaf yang berdampak langsung pada pembangunan sosial masyarakat.

 

Seminar berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama digelar di Hall 1 Lantai 2, Room Haflah at-Tauqi’, dengan menghadirkan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Ahmad Zubaidi serta akademisi Ibnu Sina, penulis buku Indunisiya wa Wakfuha: Min Turats al-Sya'bi ila Sumud al-Ummah.

 

Dalam paparannya, Ahmad Zubaidi menyoroti perkembangan wakaf di Indonesia yang semakin modern dan inovatif, terutama melalui wakaf uang yang terhubung dengan sukuk negara serta pemanfaatan teknologi digital.

 

“Wakaf di Indonesia terus berkembang melalui inovasi, baik dari sisi regulasi, digitalisasi, maupun pemanfaatannya untuk pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.

 

IMG-20260126-WA0032.jpg

 

Sementara itu, Ibnu Sina menjelaskan bahwa sistem wakaf Indonesia berangkat dari tradisi sosial dan gotong royong yang mengakar di masyarakat, kemudian berkembang menjadi pengelolaan formal berbasis kelembagaan. Sejak awal, wakaf berperan sebagai instrumen penguat solidaritas dan harmoni sosial.

 

Sesi kedua yang digelar di Paviliun Indonesia menghadirkan ulama dan pemikir sosial Mesir, Syaikh Amr al-Wardani. Ia mengulas konsep harmoni sosial sebagai fondasi keberhasilan pengelolaan zakat dan wakaf jangka panjang.

 

Dalam pemaparannya, Syaikh Amr memperkenalkan konsep “5G” sebagai pilar harmoni sosial, yang mencakup tujuan dan visi yang jelas, kesungguhan moral, tata kelola profesional berbasis kompetensi, kualitas pelaksanaan program, serta nilai keindahan etika kemanusiaan.

 

“Harmoni sosial tidak lahir secara otomatis, tetapi dibangun melalui tata kelola zakat dan wakaf yang berorientasi pada nilai, kualitas, dan kemanfaatan nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

 

Kepala Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Bimas Islam Kementerian Agama, Ismail Nur, menegaskan bahwa kehadiran Paviliun Indonesia di CIBF menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan pemikiran Islam Indonesia ke dunia internasional.

 

“Keikutsertaan Paviliun Indonesia pada Pameran Buku Internasional ke-57 di Kairo memberikan kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan Mushaf Isyarah yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas rungu di seluruh dunia. Pameran ini juga mengenalkan karya ulama Nusantara yang membawa ajaran Islam terbuka, moderat, dan toleran, sekaligus memperkenalkan konsep ekoteologi yang menjaga harmoni alam dan manusia,” ujarnya.

 

Ia menambahkan bahwa berbagai seminar dan diskusi di CIBF dirancang untuk membangun dialog langsung antara Indonesia dan masyarakat internasional.

 

“Kehadiran akademisi dan pejabat Kementerian Agama bertujuan mendekatkan narasumber dengan audiens internasional. Dengan membawa konsep ekoteologi, pendidikan, zakat, wakaf, dan pengelolaan haji di Indonesia, diharapkan terjadi pertukaran gagasan yang saling melengkapi dan menguntungkan,” katanya.

 

Seminar ini diikuti mahasiswa Mesir, mahasiswa Indonesia, serta pengunjung internasional dari berbagai negara. Diskusi yang berlangsung menunjukkan besarnya perhatian dunia terhadap zakat dan wakaf sebagai instrumen etika sosial yang mampu mendorong kesejahteraan umat.

 

Melalui rangkaian kegiatan di Paviliun Indonesia, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai kontributor aktif dalam pengembangan pemikiran Islam global yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada harmoni sosial berkelanjutan. [RUTE]

0 Komentar :

Belum ada komentar.