Opini

Perdamaian AS–Iran: Momentum Strategis atau Ujian Baru bagi Dunia Islam?

Perdamaian AS–Iran: Momentum Strategis atau Ujian Baru bagi Dunia Islam?

Oleh : Rashid Satari

Pemerhati Timur Tengah, Pemred RuangTengah

Dunia menyambut kabar perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dengan lumayan lega. Ketegangan yang selama ini mengancam stabilitas global akhirnya mereda. Jalur energi kembali aman, risiko perang besar menurun, dan ekonomi dunia mendapatkan ruang bernapas lagi.

Namun, di balik euforia itu, ada satu pertanyaan yang justru terasa mengganggu, terutama bagi dunia Islam: mengapa ketika dua kekuatan besar bisa berdamai, umat Islam justru masih sulit menyatukan diri? Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman. Tapi justru di situlah letak kejujurannya.

Kepentingan Mengalahkan Permusuhan

Tidak ada yang naif dari perdamaian ini. Amerika Serikat dan Iran tidak tiba-tiba berubah memilih damai. Mereka hanya sampai pada satu kesimpulan yang sama bahwa konflik berkepanjangan lebih merugikan daripada menguntungkan.

Selat Hormuz terlalu penting untuk terus dijadikan arena ketegangan. Sanksi ekonomi terlalu mahal untuk dipertahankan tanpa batas. Dan, risiko eskalasi militer terlalu besar untuk dibiarkan. Artinya sederhana: kepentingan akhirnya mengalahkan ego.

Di titik ini, dunia belajar satu hal penting bahwa bahkan permusuhan ideologis sekalipun bisa dinegosiasikan ketika ongkos konflik sudah lebih mahal dibandingkan manfaatnya. Pertanyaannya, apakah dunia Islam pernah sampai pada kesadaran yang sama?

Masalah Kita Bukan di Luar, Tapi di Dalam

Selama ini, umat Islam mudah sekali menyalahkan faktor eksternal: intervensi asing, kepentingan Barat, atau konspirasi global. Semua itu memang ada. Tapi, itu bukan keseluruhan cerita.

Fakta yang lebih jujur adalah bahwa dunia Islam masih lemah dalam mengelola perbedaan di dalam dirinya sendiri.

Perbedaan mazhab berubah menjadi ketegangan politik. Rivalitas negara berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Bahkan dalam isu kemanusiaan yang jelas, respons dunia Islam sering terpecah dan tidak solid.

Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap kekuatan luar masih menjadi pola yang berulang. Dalam banyak konflik, solusi justru datang dari luar, bukan dari kesadaran kolektif umat itu sendiri.

Jika dua negara yang bertahun-tahun bermusuhan bisa duduk bersama, lalu apa yang sebenarnya menghalangi dunia Islam untuk melakukan hal yang sama? Ini bukan lagi soal kemampuan. Ini soal kemauan.

Peluang yang Terbuka dan Risiko yang Mengintai

Perdamaian ini sebenarnya membuka peluang besar. Kawasan Timur Tengah bisa memasuki fase yang lebih stabil. Ruang untuk kerja sama ekonomi terbuka. Konflik proksi berpotensi mereda.

Jika ada kemauan politik yang kuat, ini bisa menjadi titik balik bagi dunia Islam untuk mulai membangun kekuatan bersama. Namun di sisi lain, ada risiko yang tidak bisa diabaikan.

Perdamaian ini juga berpotensi mengubah peta kekuatan kawasan. Iran, misalnya, bisa keluar dari tekanan dan tampil lebih kuat secara ekonomi maupun geopolitik. Jika tidak diimbangi dengan konsolidasi internal dunia Islam, maka yang terjadi bukan persatuan, melainkan pergeseran rivalitas dalam bentuk baru.

Dan seperti yang sering terjadi, dunia Islam berisiko kembali berada di posisi yang sama: bukan pemain utama, tetapi hanya penonton.

Ujian yang Tidak Bisa Dihindari

Perdamaian AS–Iran bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah cermin. Dan bagi dunia Islam, cermin itu tidak selalu menampilkan wajah yang menyenangkan. Kita melihat bahwa perdamaian itu mungkin. Bahwa dua pihak yang bermusuhan pun akhirnya bisa duduk bersama. Bahwa kepentingan bersama bisa mengalahkan konflik panjang.

Tetapi pada saat yang sama, kita juga diingatkan bahwa dunia Islam masih belum sampai ke titik itu.

Selama perbedaan terus dipertajam, selama kepentingan sempit lebih dominan daripada kepentingan umat, dan selama persatuan hanya menjadi slogan, maka momentum sebesar apa pun akan selalu lewat tanpa makna.

Pada akhirnya, ini bukan tentang Amerika atau Iran. Ini tentang kita sendiri. Apakah dunia Islam siap belajar dari realitas, atau kembali mengulang pola lama : terpecah, reaktif, dan tertinggal?

Sejarah tidak menunggu. Dan, momentum seperti ini tidak datang dua kali.[]

0 Komentar :

Belum ada komentar.