RUANGTENGAH.co.id, Gaza - Ramadan kembali menyapa Gaza, namun kali ini ia hadir dalam suasana yang jauh dari kata meriah. Di bawah kesepakatan gencatan senjata yang rapuh, warga Palestina berusaha menyambut bulan suci dengan hati yang tertahan oleh duka, kehilangan, dan kelelahan panjang akibat perang.
Bagi banyak keluarga, Ramadan tidak lagi identik dengan kebersamaan dan sukacita. Fedaa Ayyad, warga Kota Gaza, mengungkapkan perasaan yang dirasakan banyak orang. Setelah kehilangan anggota keluarga dan orang-orang terkasih, ia mengaku suasana Ramadan sulit benar-benar dirasakan.
“Tidak ada kegembiraan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih,” katanya lirih. Ia mencoba bertahan, menjalani hari demi hari, tetapi mengakui bahwa rasa itu tak lagi sampai ke hati. Ramadan datang, namun tidak sepenuhnya tinggal.
Dalam kondisi normal, Ramadan adalah waktu berkumpul, berbuka puasa bersama, memperbanyak ibadah, dan saling menguatkan. Namun di Gaza, kehidupan telah berubah drastis. Serangan militer Israel yang dimulai setelah serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah meninggalkan jejak kehancuran mendalam. Lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas, dan sebagian besar penduduk Gaza kini hidup sebagai pengungsi di tanahnya sendiri.
Di pasar-pasar, Ramadan juga terasa berbeda. Bukan karena hiruk-pikuk persiapan berbuka, melainkan karena sunyi dan keterbatasan. Waleed Zaqzouq, warga Gaza lainnya, menggambarkan betapa sulitnya hidup di tengah krisis ekonomi.
“Tidak ada uang tunai. Tidak ada pekerjaan,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa Ramadan membutuhkan biaya, sementara masyarakat nyaris tak memiliki apa-apa. “Dulu orang-orang hidup bermartabat. Sekarang, semuanya hancur.”
Meski gencatan senjata dimediasi Amerika Serikat telah diberlakukan sejak Oktober, suara tembakan dan serangan udara belum sepenuhnya berhenti. Warga hidup dalam ketidakpastian, selalu waspada, bahkan ketika hendak menjalankan ibadah.
Musim dingin memperparah keadaan. Hujan deras membanjiri kamp-kamp pengungsi, bangunan runtuh, dan cuaca dingin ekstrem merenggut nyawa anak-anak. Ramadan datang bersamaan dengan rasa lelah yang menumpuk—fisik dan batin.
Raed Koheel, warga Kota Gaza, mengenang Ramadan sebelum perang. Jalan-jalan dipenuhi lampu dan dekorasi. Anak-anak tertawa, keluarga merasa utuh. Kini, semua itu tinggal kenangan.
Namun, di tengah reruntuhan, masih ada upaya kecil untuk menjaga cahaya harapan.
Di Khan Younis, seorang seniman kaligrafi bernama Hani Dahman menulis “Selamat Datang, Ramadan” di dinding yang tersisa, sementara anak-anak memperhatikannya dengan mata berbinar.
“Kami mencoba membawa kebahagiaan ke hati anak-anak dan keluarga,” katanya. Ia ingin dunia tahu bahwa warga Gaza bukan sekadar angka korban. Mereka adalah manusia yang ingin hidup, berharap, dan mencintai kehidupan.
Dekorasi sederhana digantung di antara puing-puing bangunan. Bagi Mohammed Taniri, pemandangan itu cukup untuk menghadirkan senyum di wajah anak-anak.
“Meski sederhana, itu membawa kegembiraan,” katanya. “Di tengah semua kesulitan, kami tetap berusaha menciptakan suasana yang indah.”
Ramadan di Gaza mungkin tidak lagi penuh cahaya dan tawa. Tetapi di balik luka dan kehilangan, masih ada keteguhan untuk bertahan—dan keyakinan bahwa kemanusiaan, sekecil apa pun wujudnya, tetap layak diperjuangkan. [RUTE/arabnews]
0 Komentar :
Belum ada komentar.