RUANGTENGAH.co.id, Gaza City - Sebelum fajar menyingsing, bom-bom Israel menghujani Gaza, menerangi langit dengan kilatan jingga dan memecah keheningan malam. Serangan udara ini menyeret warga Palestina ke mimpi buruk yang mereka harapkan telah berlalu.
Pada Selasa dini hari (18/3/2025), serangan udara menghantam Khan Younis, kota di selatan Gaza, membakar kamp pengungsian dan meratakan sebuah penjara.
Salah satu lokasi yang terkena dampak adalah tempat penampungan warga Al-Tabaeen di Kota Gaza, tempat Majid Nasser dan keluarganya berusaha tidur.
“Saya keluar untuk melihat sumber ledakan. Tiba-tiba, serangan kedua terjadi di kamar sebelah,” kata Nasser.
“Saya mendengar teriakan ibu dan saudara perempuan saya meminta tolong. Saat saya masuk, saya menemukan anak-anak terkubur di bawah reruntuhan.” Meski terluka, semua anggota keluarganya selamat.
Warga Palestina berusaha menyelamatkan korban dari puing-puing dengan tangan kosong. Orang tua terlihat berlarian ke rumah sakit, bertelanjang kaki, menggendong anak-anak yang lemah dan tertutup debu. Jalanan dan fasilitas kesehatan dipenuhi mayat.
Menjelang tengah hari, korban tewas telah mencapai lebih dari 400 orang, termasuk 174 anak-anak. Hari ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam 17 bulan perang genosida, setelah dua bulan gencatan senjata.
Gencatan Senjata yang Berakhir Tragis
Selama gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari, ratusan ribu warga Gaza kembali ke rumah mereka, meski banyak yang hancur. Bantuan makanan dan obat-obatan sempat mengalir, namun Israel menghentikannya dua minggu lalu untuk menekan Hamas menerima proposal baru, alih-alih melanjutkan fase kedua gencatan senjata.
Hamas menyerukan kepada negara-negara sahabat untuk mendesak pemerintah AS menghentikan serangan udara Israel.
“Kami meminta tekanan untuk menghentikan agresi dan perang genosida ini terhadap warga sipil yang tidak berdaya,” bunyi pernyataan resmi mereka.
Bulan suci Ramadan, yang seharusnya diisi dengan kebahagiaan dan kebersamaan, justru berubah menjadi mimpi buruk. Perang ini telah menewaskan hampir 49.000 warga Palestina dan menyebabkan kerusakan masif.
Neraka di Bumi
“Apa yang terjadi pada kami adalah neraka. Neraka dalam segala arti kata,” ujar Zeyad Abed, berdiri di antara sisa-sisa tenda yang hangus di Khan Younis.
Fedaa Heriz, seorang pengungsi di Kota Gaza, menceritakan bagaimana korban tewas saat tidur, tepat sebelum waktu sahur.
“Mereka menyetel alarm untuk bangun sahur, tapi mereka bangun dalam keadaan meninggal,” katanya penuh kepedihan.
Fedaa Hamdan kehilangan suami dan kedua anaknya dalam serangan di Khan Younis.
“Anak-anak saya meninggal dalam keadaan kelaparan,” ujarnya, sambil menangis di samping jenazah mereka.
Rumah Sakit yang Kewalahan
Pemandangan di rumah sakit mengingatkan pada hari-hari awal perang. Puluhan jenazah dibungkus kantong mayat dan berjejer di halaman Rumah Sakit Shifa. Para ibu menangis histeris melihat anak-anak mereka yang berlumuran darah, sementara pesawat tempur terus mengudara di atas.
“Rasanya seperti kiamat,” kata Dr. Tanya-Haj Hassan, relawan Medical Aid for Palestinians.
Ia menggambarkan ruang gawat darurat Rumah Sakit Nasser di Khan Younis sebagai kekacauan, dengan pasien, termasuk anak-anak, bergelimpangan di lantai.
Dr. Ismail Awad dari Doctors Without Borders menuturkan, kliniknya menerima 26 korban luka, termasuk seorang wanita hamil tujuh bulan dengan pecahan peluru di lehernya. Sayangnya, ia tak bisa diselamatkan.
Blokade dan Kelaparan
Israel tidak hanya memblokir pasokan makanan dan obat-obatan, tetapi juga memutus aliran listrik ke pabrik desalinasi utama, memperparah krisis air bersih dan obat-obatan.
Di klinik Al-Attar di Muwasi, staf medis terpaksa bekerja tanpa listrik dan peralatan darurat.
“Jumlah pasien sangat banyak, kami kewalahan,” kata Awad.
Sementara itu, jenazah korban terus berdatangan. Di luar Rumah Sakit Al-Ahli Arab, kereta kuda mengangkut mayat-mayat yang akan dimakamkan. Gaza sekali lagi tenggelam dalam duka dan kehancuran. [RUTE/AHRAM]
0 Komentar :
Belum ada komentar.