Internasional

4.500 Warga Toronto Gelar Aksi Bela Palestina Memperingati Hari Al-Quds

4.500 Warga Toronto Gelar Aksi Bela Palestina Memperingati Hari Al-Quds
Aksi bela Palestina berlangsung di pusat kota Toronto, Kanada, pada Sabtu (14/3/2026). (Gambar : Anadolu)

RUANGTENGAH.co.id, Toronto - Sekitar 4.500 orang menggelar aksi demonstrasi untuk menyatakan dukungan terhadap Palestina di pusat kota Toronto, Kanada, pada Sabtu (14/3/2026).

 

Aksi ini berlangsung di depan Konsulat Amerika Serikat dan merupakan bagian dari peringatan tahunan Hari Al-Quds yang digelar di berbagai negara pada setiap Jumat terakhir bulan Ramadan. 

 

Demonstrasi tersebut tetap terlaksana setelah pengadilan menolak upaya pemerintah Provinsi Ontario yang sebelumnya berusaha menghentikan kegiatan tersebut melalui jalur hukum.

 

Aksi ini mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian. Meski dihadiri ribuan peserta, hanya dua orang yang ditangkap selama kegiatan berlangsung, salah satunya berasal dari kelompok demonstran tandingan.

 

Sejumlah peserta terlihat membawa bendera Palestina dan Iran sambil meneriakkan slogan “Bebaskan Palestina,” sebagaimana dilaporkan oleh harian Kanada The Globe and Mail.

 

Pengadilan Tolak Permintaan Larangan Demonstrasi

 

Beberapa organisasi masyarakat sipil ikut terlibat dalam proses hukum untuk mempertahankan hak masyarakat menggelar aksi tersebut. Salah satunya adalah National Council of Canadian Muslims (NCCM).

 

Di pengadilan, organisasi ini menentang rencana pelarangan demonstrasi dengan alasan bahwa langkah tersebut berkaitan dengan perlindungan kebebasan sipil, khususnya hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di ruang publik.

 

Dalam pernyataannya setelah keputusan pengadilan, NCCM menyambut baik keputusan tersebut. “Kami senang melihat pengadilan dalam kasus ini menegakkan pentingnya kebebasan yang dilindungi oleh konstitusi dengan menolak permohonan tersebut,” kata organisasi itu.

 

Hakim: Polisi Dapat Menangani Tanpa Perintah Khusus

 

Sebelumnya, Perdana Menteri Provinsi Ontario, Doug Ford, mengkritik rencana demonstrasi tersebut dan menyebutnya berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya kebencian dan antisemitisme.

 

Pemerintah provinsi juga mengaitkan kekhawatiran itu dengan insiden penembakan yang terjadi di sekitar Konsulat Amerika Serikat pada awal pekan lalu. Namun, Hakim Robert Centa menilai tidak ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa demonstrasi tersebut harus dilarang melalui perintah pengadilan.

 

Ia menyatakan bahwa peserta demonstrasi diharapkan tetap mematuhi hukum selama aksi berlangsung, sementara aparat kepolisian memiliki kewenangan penuh untuk menjaga ketertiban.

 

“Pengadilan mengharapkan para peserta untuk tidak terlibat dalam aktivitas kriminal atau perbuatan melawan hukum selama mengikuti aksi,” kata hakim. Ia juga menegaskan bahwa aparat kepolisian dapat menjalankan tugasnya tanpa memerlukan perintah khusus dari pengadilan untuk mengamankan demonstrasi tersebut. [RUTE/ANADOLU]

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.