Hikmah

Di Mina Belajar Kesederhanaan dan Mengingat Kematian

Di Mina Belajar Kesederhanaan dan Mengingat Kematian

Oleh: Zainurrofieq 

(Anggota Komisi Dakwah Pokja Luar Negeri MUI Pusat Periode 2025–2030)

Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Tarwiyah. Pada hari itu, para jamaah haji disunnahkan—bahkan menurut sebagian ulama diwajibkan—untuk menuju Mina dan bermalam di sana (mabit), sebelum melanjutkan perjalanan ke Arafah keesokan harinya.

Di balik rangkaian ibadah ini, tersimpan pelajaran yang sangat dalam bagi setiap Muslim yang mau merenung.

Mina dan Pelajaran Tentang Kesederhanaan

Ketika para jamaah haji berada di Mina, tampaklah sebuah pemandangan yang jarang ditemukan dalam kehidupan dunia: kesederhanaan yang merata tanpa sekat.

Tidak ada perbedaan mencolok antara seorang pejabat tinggi dengan rakyat biasa. Tidak ada keistimewaan bagi orang kaya dibandingkan yang miskin. Semua tinggal di tenda-tenda yang serupa, dengan fasilitas yang sederhana—sekadar cukup untuk beristirahat dan beribadah.

Inilah gambaran nyata bahwa dunia bukanlah tempat untuk berbangga-bangga.

Mina seakan mengajarkan kepada kita bahwa setinggi apa pun jabatan, sebanyak apa pun harta, pada hakikatnya manusia akan kembali kepada keadaan yang sama: lemah, bergantung, dan membutuhkan Allah Ta’ala.

Kesederhanaan di Mina bukan sekadar kondisi fisik, tetapi latihan jiwa. Ia melatih manusia untuk menundukkan ego, mengikis kesombongan, serta menumbuhkan rasa persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

Di sana, jamaah saling membantu, saling menjaga, dan saling mendoakan. Kebersamaan tumbuh bukan karena kepentingan dunia, tetapi karena tujuan yang sama: mendekatkan diri kepada Allah.

Bukankah ini hakikat kehidupan yang sebenarnya?

Bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia bukan tujuan akhir, melainkan sekadar tempat singgah—seperti seorang musafir yang beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya.

Mina dan Kesadaran Akan Kematian

Selain kesederhanaan, mabit di Mina juga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan manusia: mengingat kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ أُو۟لِي ٱلْأَيْدِي وَٱلْأَبْصَٰرِ
إِنَّآ أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى ٱلدَّارِ

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan dan ilmu. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan suatu keistimewaan, yaitu selalu mengingat negeri akhirat." (QS. Shad: 45–46)

Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi yang mulia tersebut memiliki keutamaan besar karena hati mereka senantiasa terikat dengan akhirat. Mengingat akhirat berarti mengingat kematian.

Namun, mengingat kematian bukan untuk menjadikan seseorang lemah, pesimis, atau tenggelam dalam kesedihan. Justru sebaliknya, ia adalah sumber kekuatan.

Orang yang selalu mengingat kematian akan hidup dengan arah yang jelas. Ia sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah ladang amal. Ia memahami bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk menanam kebaikan yang akan dipanen di akhirat.

Karena itulah, mengingat kematian justru melahirkan semangat hidup yang tinggi—semangat untuk beramal shalih.

Mina, Barzah, dan Perjalanan Menuju Akhirat

Bermalamnya jamaah haji di Mina sebelum menuju Arafah juga memberikan gambaran tentang perjalanan manusia setelah kematian.

Sebagaimana jamaah berhenti sejenak di Mina, demikian pula manusia akan singgah di alam Barzah sebelum menuju kehidupan akhirat yang sebenarnya.

Alam Barzah adalah alam penantian. Di sana, manusia akan ditemani oleh amalnya.

Jika amalnya baik, maka ia akan mendapatkan ketenangan, cahaya, dan kemudahan. Namun jika sebaliknya, maka yang datang adalah kesempitan dan kesulitan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amal-amal shalih—termasuk bacaan Al-Qur’an—akan menjadi teman setia di alam kubur.

Maka, orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang ini.

Jangan Tertipu Kilau Dunia

Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takatsur: 1–2)

Betapa banyak manusia yang sibuk mengejar dunia—harta, jabatan, dan popularitas—hingga lupa bahwa semua itu akan ditinggalkan.

Tidaklah salah menjadi kaya. Bahkan seorang mukmin yang kuat dan memiliki harta bisa lebih banyak memberi manfaat. Namun syaratnya, harta tersebut harus disadari sebagai titipan dari Allah dan digunakan di jalan-Nya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

Harta yang diberkahi adalah harta yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari-Nya.

Hidup Adalah Ibadah

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Mengingat kematian bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tidak mengajarkan sikap demikian.

Seorang Muslim tetap bekerja, berkeluarga, dan bermuamalah. Namun semua itu diarahkan sebagai ibadah.

Di masjid ia beribadah, di rumah ia beribadah, di tempat kerja ia beribadah. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari, ia berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah kehidupan yang seimbang—hidup di dunia, namun hati terikat dengan akhirat.

Mina mengajarkan kita dua hal besar: kesederhanaan dan kesadaran akan kematian.

Dan, dunia ini hanyalah tempat singgah. Sebentar saja. Tidak lama. Akan tiba saatnya tubuh ini tak lagi bergerak, mata tak lagi melihat, dan kita hanya tinggal amal yang pernah kita lakukan. Akan tiba saatnya kita tidak lagi menunaikan shalat, tetapi justru dishalatkan.

Maka, berbahagialah orang yang menjadikan hidupnya penuh dengan amal shalih. Karena sesungguhnya, kehidupan yang hakiki bukan di dunia ini—melainkan di akhirat kelak.[]

0 Komentar :

Belum ada komentar.