RUANGTENGAH.co.id, Tasikmalaya - Diskusi ilmiah tentang pemahaman fiqih mazhab menjadi pusat perhatian dalam rangkaian Haul Akbar Pondok Pesantren Cintawana, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Forum yang digelar pada Sabtu (25/4/2026) ini menghadirkan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis, sebagai narasumber utama.
Mengangkat tema “Mengkaji Pemahaman Syafi’iyah dalam Perspektif Fiqh Mazhab”, diskusi ini menegaskan kembali pentingnya bermazhab dalam tradisi keilmuan pesantren. KH Cholil Nafis menyebut, bermazhab merupakan sebuah keharusan sekaligus bentuk ketawadhuan para ulama.
“Keharusan, karena ilmu para ajengan merasa belum sampai tingkatan mujtahid mutlak, sehingga pilihannya adalah muttabi’ kepada shahibul mazhab atau bagi orang awam adalah muqallid kepada ulama,” kata Kiai Cholil.
Ia menambahkan, sikap tersebut menunjukkan kesadaran bahwa keilmuan harus disandarkan pada transmisi ulama yang memiliki otoritas, sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ketua panitia haul, Farhan Fuadi, menegaskan bahwa diskusi ilmiah merupakan agenda khas dalam setiap penyelenggaraan haul di Pesantren Cintawana.
“Harapan kami, dengan kegiatan ini kita bisa mendapatkan pemahaman konsep Imam Syafi’i dalam fiqih mazhab yang biasa kita laksanakan sehari-hari,” ujarnya.
Haul Akbar dan Rangkaian Kegiatan
Haul Akbar Pondok Pesantren Cintawana tahun ini digelar pada Sabtu–Minggu, 25–26 April 2026, untuk memperingati haul ke-83 KH Muhammad Toha dan haul ke-40 KH Ishak Farid. Kegiatan ini mengusung tema besar “Mengenang Sang Mutiara Ummat”.
Ketua Yayasan Ponpes Cintawana, KH Irvan Hilmi, menjelaskan bahwa rangkaian acara tidak hanya berisi doa bersama dan pengajian, tetapi juga tabligh akbar, silaturahim alumni, hingga bazar UMKM yang melibatkan masyarakat luas.
Menurutnya, haul bukan sekadar mengenang jasa para ulama, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara alumni, keluarga besar pesantren, dan masyarakat.
“Tema diskusi ilmiah yang diusung dalam haul akbar Pesantren Cintawana ini adalah kajian tentang pemahaman Syafi’iyah dalam perspektif fiqih mazhab,” kata KH Irvan.
Menguatkan Jejak Keilmuan Ulama
Dewan Kiai Ponpes Cintawana, KH Zainurrofiq, menilai kehadiran KH Cholil Nafis dalam haul ini memiliki makna penting dalam menghidupkan kembali jejak keilmuan KH Ishak Farid. Ia menyebut, KH Ishak Farid telah menggagas organisasi keulamaan di Tasikmalaya jauh sebelum berdirinya MUI secara nasional.
“Dulu sebelum ada MUI yang sekarang, Kiai Ishak sudah menggagas ide organisasi keulamaan di Tasikmalaya di tengah bermunculannya berbagai organisasi massa Islam saat itu,” ungkapnya.
Pesantren Cintawana sendiri merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Barat yang berdiri sejak 1917, didirikan oleh KH Muhammad Toha dan dilanjutkan oleh KH Ishak Farid. Pesantren ini dikenal dengan ikrar Muslimun Sunniyun wa Ghazaliyun, yang menegaskan identitas sebagai Muslim Sunni dan pengikut pemikiran Imam Al-Ghazali.
KH Cholil Nafis juga mengapresiasi kontribusi pesantren dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir dan Rais ‘Aam PBNU KH Ruhiyat.
Melalui Haul Akbar ini, Pesantren Cintawana diharapkan terus menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan tradisi intelektual pesantren yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. [RUTE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.