RUANGTENGAH.co.id, Washington - Gedung Putih memastikan Amerika Serikat akan menggelar pembicaraan dengan Iran terkait program nuklir pada hari Jumat di Muscat, Oman.
Kepastian ini disampaikan oleh pejabat pemerintah AS di tengah hubungan kedua negara yang masih memanas, terutama setelah penindakan keras pemerintah Iran terhadap aksi protes nasional bulan lalu.
Konfirmasi dari Washington muncul pada Rabu (4/2/2026), beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mengumumkan lokasi pertemuan tersebut. Sebelumnya, pembicaraan sempat direncanakan berlangsung di Turki, namun akhirnya dipindahkan ke Oman.
Menurut sumber regional, perubahan ini terjadi karena Iran menginginkan format pembicaraan yang lebih eksklusif dan fokus sepenuhnya pada isu nuklir, hanya melibatkan Teheran dan Washington tanpa agenda tambahan.
Pemerintah AS akhirnya menyetujui perubahan tersebut. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut, sejumlah pemimpin Arab dan negara Muslim turut mendorong Amerika agar tetap melanjutkan dialog demi menjaga stabilitas kawasan.
Meski demikian, Gedung Putih mengaku masih skeptis pertemuan ini akan menghasilkan terobosan besar.
AS Ingin Bahas Isu Lebih Luas
Ketegangan kedua negara meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, sekaligus terus menekan Teheran agar membatasi program nuklirnya.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan sinyal baru dengan memerintahkan menteri luar negerinya untuk melakukan negosiasi yang adil dan setara dengan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang sebagai tanda persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya menolak dialog dengan Washington.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap pembicaraan tidak berhenti pada isu nuklir saja. Amerika juga ingin mengangkat soal rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan, serta kondisi perlakuan pemerintah Iran terhadap rakyatnya.
Rubio menilai para pemimpin Iran saat ini tidak mewakili aspirasi masyarakatnya, bahkan menyebut jarak antara penguasa dan rakyat Iran sangat mencolok dibanding banyak negara lain.[RUTE/ARABNEWS]
0 Komentar :
Belum ada komentar.