Internasional

Ibu Hamil Anak Kembar dan Dua Anaknya Hilang Nyawa di Gaza, Gencatan Senjata Ilusi Belaka

Ibu Hamil Anak Kembar dan Dua Anaknya Hilang Nyawa di Gaza, Gencatan Senjata Ilusi Belaka
(Gambar : Anadolu)

RUANGTENGAH.co.id, Gaza – Duka kembali menyelimuti Jalur Gaza, Palestina. Seorang ibu hamil yang mengandung anak kembar bersama kedua anaknya dilaporkan tewas dalam serangan Israel yang menghantam sebuah rumah di Beit Lahiya, wilayah utara Gaza.

Peristiwa tragis ini terjadi di tengah klaim gencatan senjata yang seharusnya memberi ruang aman bagi warga sipil. Namun, menurut kesaksian warga dan keluarga korban, serangan justru terus berlanjut tanpa henti.

Rumah milik keluarga Et-Tanani menjadi sasaran serangan. Sang ibu yang tengah mengandung empat bulan bersama dua anaknya tidak selamat dari pemboman tersebut. Jenazah mereka kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza sebelum dimakamkan.

Kesaksian Keluarga: “Mereka Tidak Terlibat Apa Pun”

Kesedihan mendalam disampaikan oleh keluarga korban. Sumeyye Kersu, sepupu dari korban, menegaskan bahwa keluarga tersebut adalah warga sipil yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik.

“Sepupu saya hamil empat bulan dengan anak kembar. Dia kehilangan kedua anaknya dalam serangan itu. Keluarga itu tinggal di daerah sipil; mereka tidak terlibat dalam apa pun.”

Detik-Detik Serangan Tanpa Peringatan

Suami korban, Khalid Et-Tanani, mengisahkan momen-momen mencekam saat serangan terjadi. Ia menuturkan bahwa wilayah tempat tinggal mereka sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. “Kami hidup di bawah perlindungan Tuhan, tetapi kami diserang setiap hari,” kata Tanani.

Ia menggambarkan bagaimana serangan datang bertubi-tubi tanpa peringatan.

“Ketika rudal pertama menghantam, kami berkata, ‘Syukurlah kami masih hidup.’ Kami mencoba merangkak keluar. Kemudian datang serangan kedua, ketiga, dan keempat. Ledakan keempat begitu dahsyat sehingga kami tidak dapat mendengar apa pun,” cerita Tanani

Tragedi itu berakhir dengan kehilangan yang tak tergantikan.

"Saya melihat bahwa mereka semua kehilangan nyawa mereka,” kisah Tanani pilu.

Kehilangan yang Tak Terbayangkan

Dengan suara penuh duka, Tanani menggambarkan apa yang ia temukan setelah serangan mereda.

“Saya tidak lagi bisa mendengar suara istri dan anak-anak saya.”

Ia melanjutkan dengan kesaksian memilukan saat memasuki rumahnya.

“Anak saya, Hamza, berada dalam pelukan ibunya. Saya memanggil mereka tetapi tidak mendapat jawaban. Ketika saya mendekati mereka, saya menyadari bahwa mereka semua telah kehilangan nyawa.”

Gencatan Senjata yang Terus Dilanggar

Warga Gaza menilai serangan terhadap kawasan sipil terus berlangsung meski gencatan senjata telah diumumkan. Penargetan permukiman sipil disebut menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah korban.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, serangan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 809 orang dan melukai lebih dari 2.200 lainnya. Selain itu, ratusan jenazah masih ditemukan di bawah reruntuhan.

Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai lebih dari 72 ribu orang, dengan lebih dari 172 ribu lainnya mengalami luka-luka. Ribuan korban lainnya diyakini masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang hancur. [RUTE/ANADOLU]

0 Komentar :

Belum ada komentar.