RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Imam Besar Al-Azhar, Ahmed Al-Tayyeb, melontarkan kritik tajam terhadap pendekatan militer yang digunakan dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Ia menilai, ketergantungan pada kekuatan senjata yang disertai sikap arogansi justru gagal menyelesaikan masalah, bahkan berdampak balik terhadap negara-negara Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Al-Tayyeb saat menerima Duta Besar Prancis untuk Mesir, Éric Chevallier, dalam pertemuan resmi yang turut membahas penguatan kerja sama akademik, budaya, dan pendidikan antara Al-Azhar dan Prancis.
“Masalah saat ini adalah kesombongan dan ketergantungan pada kekuatan materi yang diwakili oleh senjata,” ujar Al-Tayyeb, sebagaimana dikutip dalam pernyataan resmi Al-Azhar.
Perang Dinilai Picu Dampak Balik ke Barat
Al-Tayyeb menegaskan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah tidak hanya membawa kehancuran di kawasan tersebut, tetapi juga berdampak luas hingga ke negara-negara Barat, terutama dalam aspek ekonomi dan sosial.
“Perang yang meletus di Timur tanpa sebab yang nyata telah memengaruhi Barat secara ekonomi dan sosial. Namun perang-perang ini belum mencapai tujuan apa pun yang diupayakan,” katanya.
Sejumlah laporan lembaga internasional sebelumnya juga menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu tekanan ekonomi global, krisis energi, serta gelombang ketidakstabilan sosial di berbagai negara.
Krisis Global dan Hilangnya Kendali Moral
Lebih jauh, Al-Tayyeb mengaitkan situasi global saat ini dengan melemahnya nilai-nilai kemanusiaan dan agama dalam pengambilan keputusan politik internasional. Menurutnya, dunia kini menghadapi kekuatan yang tidak lagi dikendalikan oleh etika dan moralitas.
Al-Tayyeb menilai, meskipun terdapat suara-suara rasional yang menyerukan perdamaian, pengaruhnya masih kalah kuat dibanding kekuatan yang mendorong konflik.
“Dunia menderita akibat kekuatan yang tidak terkendali oleh etika dan moralitas,” ujarnya.
Al-Azhar sendiri selama ini dikenal konsisten mengkritik berbagai intervensi militer di Timur Tengah. Lembaga tersebut juga menyoroti sejumlah tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional, termasuk serangan terhadap target sipil.
Dukungan Diplomasi dan Hubungan Prancis – Al-Azhar
Dalam pertemuan tersebut, Imam Besar Al-Azhar kembali menegaskan dukungannya terhadap upaya diplomatik, termasuk yang dilakukan Mesir, guna meredakan ketegangan dan mendorong penyelesaian damai konflik di kawasan.
Sementara itu, Prancis dalam beberapa kesempatan juga menunjukkan sikap kritis terhadap eskalasi konflik serta mendorong solusi politik, termasuk dukungan terhadap pengakuan negara Palestina.
Di luar isu geopolitik, pertemuan Al-Tayyeb dan Chevallier turut menyoroti hubungan panjang antara Al-Azhar dan Prancis di bidang pendidikan dan kebudayaan. Kerja sama tersebut antara lain terjalin melalui pengajaran bahasa Prancis di Universitas Al-Azhar.
Al-Tayyeb bahkan mengenang pengalamannya mempelajari bahasa Prancis dan keterlibatan akademisi lulusan Prancis dalam membentuk tradisi keilmuan di Al-Azhar. Ia juga mendorong generasi muda untuk menerjemahkan khazanah intelektual Islam ke dalam berbagai bahasa dunia.
Apresiasi dan Harapan Kerja Sama
Duta Besar Prancis, Éric Chevallier, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi terhadap peran Al-Tayyeb dalam mempromosikan perdamaian global dan persaudaraan antarmanusia.
Ia menegaskan komitmen Prancis untuk terus memperkuat kerja sama ilmiah dan budaya dengan Al-Azhar sebagai salah satu pusat keilmuan Islam terkemuka di dunia.
Pertemuan ini menegaskan bahwa di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, jalur dialog dan kerja sama intelektual tetap menjadi ruang penting untuk membangun pemahaman dan perdamaian global. [RT/AHRAM]
0 Komentar :
Belum ada komentar.