Internasional

Inovatif, Perusahaan Mesir Membuat Plastik Berbahan Batu

Inovatif, Perusahaan Mesir Membuat Plastik Berbahan Batu

RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Kementerian Lingkungan Hidup Mesir, Perusahaan Internasional untuk Perminyakan dan Layanan Industri INCOM, dan perusahaan Okeanos International menandatangani nota kesepahaman (UoM) pada Ahad (15/5) untuk mendirikan perusahaan bersama, Okeanos Egypt.

Dengan teknologi baru, perusahaan baru ini akan memproduksi plastik berbahan batu untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik selama ini.

Sesuai kesepakatan, proyek Okeanos Egypt akan memproduksi plastik berbasis teknologi kalsium-karbonat (batu kapur) dengan tambahan persentase yang sangat kecil dari plastik mentah (polypropylene [PP] atau polyethylene). Ini merupakan terobosan baru yang mampu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan emisi CO2.

“Kesepakatan ini hadir juga dalam konteks Mesir sebagai tuan rumah konferensi iklim COP27 yang akan diadakan di kota Sharm El Sheikh. Kita ingin mendorong dunia bergerak ke ekonomi hijau dan biru,” kata Menteri Lingkungan Mesir Yasmine Fouad.

“Diperkenalkannya teknologi ‘Terbuat dari Batu’ ke kawasan Timur Tengah akan secara signifikan mengurangi penggunaan plastik dan emisi CO2. Proyek ini akan menciptakan banyak peluang kerja yang menjanjikan di pasar Mesir, melalui rencana investasi ambisius selama tiga tahun dengan US$ 50 juta,” kata CEO INCOM Amr Sheta.

Sheta menambahkan bahwa proyek tersebut akan mengurangi impor beberapa bahan plastik, dan akibatnya akan meningkatkan transformasi Mesir menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

CEO Okeanos International yang berbasis di AS, Florencio G. Cuétara mengatakan bahwa Okeanos Egypt membuktikan bahwa teknologi Terbuat dari Batu adalah solusi yang layak, terukur, dan hemat biaya.

Kampanye Live Green

Dalam kerangka kampanye “Live Green” oleh presiden, Kementerian Lingkungan Hidup berfokus pada pembatasan konsumsi kantong plastik sekali pakai sebagai cara untuk mengurangi bahaya bahan beracun tersebut terhadap lingkungan.

Kantong plastik sekali pakai bisa meracuni tanah, karena sebagian besar kantong plastik sekali pakai membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terurai dan berubah menjadi partikel plastik kecil yang melepaskan racun di tanah dan air.

Kehidupan laut dan ekosistem juga terancam oleh partikel plastik yang ditemukan dalam jumlah besar di lautan. Hewan laut seperti paus, lumba-lumba dan ikan langka lainnya mati karena memakan kantong plastik, menurut sumber di Kementerian.

Fouad menyatakan tahun lalu bahwa supermarket dan hypermarket mengkonsumsi kantong plastik sekali pakai dalam jumlah terbesar. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk mengganti tas sekali pakai dengan yang biodegradable di rantai supermarket.

Konsumsi Besar Plastik

Mesir mengkonsumsi sekitar 12 miliar kantong plastik setiap tahun. Pada 2012, konsumsi kantong plastik per kapita mencapai 25 kg, dengan peningkatan tahunan sebesar 6 persen sejak 2006, yang tercatat 1,64 juta ton kantong plastik, menurut data resmi yang dikeluarkan kementerian per Juli 2019.

Pada 2012, Mesir mengonsumsi 2,07 juta ton bahan baku plastik, 28 persen di antaranya diproduksi dalam negeri, sedangkan sisanya impor. Daerah yang paling besar mengkonsumsi kantong plastik adalah Kairo, Delta, dan Alexandria, dengan masing-masing 40 persen, 23 persen dan 12 persen, tambah laporan itu.

Toko kelontong dan toko komersial berada di urutan teratas ritel yang mengonsumsi plastik sekali pakai dalam jumlah terbesar, dengan masing-masing 25 persen dan 17 persen, lanjut laporan itu.

Kepala Divisi Daur Ulang Plastik di Kamar Industri Kimia Khaled Abul Makarem menyatakan bahwa Mesir memiliki 1.250 pabrik untuk pembuatan plastik nasional, yang juga mengimpor produk plastik biodegradable dengan biaya sekitar $3,2 juta per tahun.

“Divisi ini memberikan program pelatihan kepada produsen untuk mengetahui cara mentransfer plastik sekali pakai menjadi plastik multi guna,” kata Abul Makarem kepada Egypt Today.

Dia mengakui bahwa biaya pembuatan plastik biodegradable sedikit lebih tinggi daripada pembuatan plastik tradisional; hanya 1 persen lebih tinggi.

“Tidak dapat diprediksi kapan Mesir akan bebas dari produk plastik sekali pakai, karena ini tergantung pada permintaan masyarakat,” lanjutnya, seraya menambahkan bahwa beberapa produsen di Kairo, Laut Merah, dan Alexandria mulai mengganti industri tradisional dengan yang ramah lingkungan. (RUTE/egypttoday)

Tags: -

0 Komentar :

Belum ada komentar.