Hikmah

Jumrah, Momentum Melemparkan Sifat Syetan dalam Diri

Jumrah, Momentum Melemparkan Sifat Syetan dalam Diri
Ilustrasi (gambar : MUI)

Oleh: Zainurrofieq

(Anggota Komisi Dakwah Pokja Luar Negeri MUI Pusat Periode 2025–2030)

Di antara rangkaian manasik haji yang sarat makna adalah melempar jumrah. Pada hari-hari Tasyriq, para jamaah haji menuju Mina untuk melempar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah.

Sepintas, amalan ini tampak sederhana—hanya melemparkan batu-batu kecil ke sebuah titik. Namun, di balik gerakan itu tersimpan pesan spiritual yang sangat dalam, yaitu tentang perlawanan terhadap godaan syetan dan penegasan komitmen untuk taat kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

"Sesungguhnya dijadikannya thawaf di Ka'bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah." (HR. Abu Dawud)

Dengan demikian, melempar jumrah bukan sekadar ritual fisik, tetapi bagian dari upaya menghadirkan kesadaran akan Allah dalam setiap gerak dan langkah.

Jejak Nabi Ibrahim: Melawan Godaan Syetan

Asal-usul pelemparan jumrah berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau hendak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, syetan datang berulang kali untuk menggoda dan menggoyahkan keimanan beliau.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Ibrahim melempari syetan dengan batu di tiga tempat, yang kemudian menjadi lokasi jumrah saat ini. Tindakan ini bukan sekadar bentuk kemarahan, tetapi simbol ketegasan dalam menolak bisikan syetan.

Allah SWT berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

"Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh." (QS. Fathir: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa hubungan antara manusia dan syetan adalah permusuhan abadi. Maka, melempar jumrah adalah bentuk deklarasi: bahwa seorang hamba memilih berpihak kepada Allah dan memusuhi syetan.

Melempar Syetan di Luar, Mengalahkannya di Dalam

Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah syetan benar-benar berada pada tiang jumrah yang kita lempar? Tentu tidak. Syetan tidak terikat pada satu tempat. Ia hadir dalam bisikan, dalam hawa nafsu, dalam keraguan, dan dalam dorongan menuju maksiat.

Karena itu, hakikat melempar jumrah adalah melempar sifat-sifat kesyaitanan dalam diri kita sendiri.

Allah SWT berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan." (QS. Asy-Syams: 7–8)

Di dalam diri manusia terdapat potensi untuk mengikuti jalan syetan atau jalan takwa. Maka ketika seorang jamaah melempar jumrah, seharusnya ia sedang berkata dalam hatinya,
“Aku lempar kesombonganku.”
“Aku lempar kemalasanku.”
“Aku lempar iri dan dengkiku.”
“Aku lempar segala bisikan yang menjauhkan diriku dari Allah.”

Tanpa kesadaran ini, lemparan jumrah hanya menjadi gerakan tanpa makna.

Jumrah sebagai Momentum Perang Melawan Hawa Nafsu

Syetan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia. Ia masuk melalui celah-celah kelemahan kita: cinta dunia, ambisi berlebihan, amarah yang tak terkendali, dan kelalaian dalam beribadah.

Allah SWT memperingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan." (QS. An-Nur: 21)

Langkah-langkah syetan seringkali halus dan bertahap. Ia tidak langsung menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, tetapi memulainya dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Karena itu, melawan syetan membutuhkan kesadaran, kesungguhan, dan latihan terus-menerus.

Melempar jumrah adalah simbol dari perang itu. Ia adalah latihan spiritual untuk mengatakan “tidak” kepada godaan, dan “ya” kepada ketaatan.

Apa yang Sudah Kita Lemparkan?

Setelah kembali dari Mina, pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah. “Apakah kita benar-benar telah melempar syetan?”

Ataukah kita hanya melempar batu, sementara sifat-sifat syetan masih kita pelihara dalam hati?

Jumrah seharusnya menjadi titik balik. Ia mengajarkan bahwa melawan syetan bukan hanya tugas jamaah haji, tetapi tugas setiap Muslim sepanjang hidupnya.

Setiap hari adalah medan pertempuran. Setiap godaan adalah ujian. Dan setiap ketaatan adalah kemenangan.

Menjadi Pemenang dalam Pertarungan Abadi

Melempar jumrah adalah simbol, tetapi maknanya adalah perjuangan nyata. Ia mengajarkan bahwa kemenangan tidak diraih dengan sekali lemparan, tetapi dengan konsistensi dalam melawan hawa nafsu dan bisikan syetan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya melempar jumrah secara fisik, tetapi juga mampu melempar dan mengalahkan sifat-sifat syetan dalam diri kita.

 

اللَّهُمَّ أَعِذْنَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَزَيِّنْ قُلُوبَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Ya Allah, lindungilah kami dari godaan syetan yang terkutuk, hiasilah hati kami dengan iman, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertakwa."

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.