RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Institusi keislaman terkemuka di dunia, Al-Azhar, mengutuk keras upaya penargetan Kota Suci Mekkah. Al-Azhar menegaskan bahwa tindakan yang membahayakan Mekkah merupakan kejahatan berat yang melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.
"Menempatkan Mekkah dalam bahaya merupakan kejahatan keji dan serangan berdosa terhadap tempat suci yang dimuliakan oleh Allah," tegas Al-Azhar dalam pernyataan resminya pada Rabu (16/9/2026).
Lembaga keagamaan yang berbasis di Kairo ini memperingatkan agar konflik regional yang tengah memanas tidak sampai merembet ke situs-situs suci Islam. Al-Azhar menilai, sangat tidak masuk akal jika Kota Suci Mekkah dijadikan arena pertempuran atau sasaran ancaman militer.
Garis Merah
Sikap tegas Al-Azhar ini merespons insiden pencegatan drone oleh Koalisi pimpinan Arab Saudi di sebelah selatan Mekkah pada Selasa (15/9/2026). Koalisi menuding kelompok Houthi Yaman berada di balik peluncuran drone tersebut, meski pihak Houthi telah melayangkan bantahan.
Al-Azhar mengingatkan bahwa keselamatan situs suci di Arab Saudi bukan sekadar persoalan geopolitik wilayah setempat, melainkan urusan akidah.
"Keamanan Dua Masjid Suci bukanlah masalah politik atau regional; hal ini menyangkut keyakinan seluruh umat Islam," tulis Al-Azhar, merujuk pada Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Setiap ancaman yang mengarah ke Mekkah, lanjut Al-Azhar, sama saja dengan menodai perasaan dua miliar umat Muslim di belakangan bumi. Oleh karena itu, kesucian kota tersebut beserta keselamatan para peziarah wajib dihormati oleh semua pihak.
Eskalasi Konflik Yaman
Insiden drone ini terjadi di tengah kembali memanasnya pertempuran di Yaman serta meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis menyusul pergerakan militer kelompok Houthi di wilayah pesisir.
Meranggapi situasi yang memburuk, Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menggelar pertemuan di Kairo pada Selasa lalu. Kedua pemimpin kembali menegaskan pentingnya menempuh solusi politik guna mengakhiri krisis di Yaman. [RUTE/Ahram]
0 Komentar :
Belum ada komentar.