Oleh : Zainurrofieq
(Anggota Komisi Dakwah Pokja Luar Negeri MUI Pusat Periode 2025–2030)
Setiap datangnya Dzulhijjah, gema takbir membelah langit, menggetarkan hati orang-orang beriman. Kaum Muslimin bersegera menyambut salah satu syiar agung dalam Islam, yaitu ibadah kurban yang dilaksanakan pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan berlanjut pada hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah)—hari-hari yang disebut Rasulullah SAW sebagai hari makan, minum, dan mengingat Allah Ta’ala.
Pada rentang waktu inilah, kaum Muslimin menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Namun, kurban sejatinya tidak berhenti pada peristiwa penyembelihan di hari-hari tersebut. Ia adalah simbol dari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu totalitas pengabdian diri seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kurban mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi perjalanan batin yang menuntut keikhlasan, ketundukan, dan pengorbanan.
Di balik tetesan darah hewan kurban, terdapat pesan besar bahwa seorang hamba harus siap menyerahkan apa pun yang ia cintai demi meraih ridha Allah. Maka, kurban bukan hanya ritual tahunan, melainkan madrasah ruhani yang membentuk karakter seorang mukmin.
Ibrahim dan Ismail: Puncak Ketundukan Tanpa Syarat
Sejarah kurban tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah ini adalah potret paling nyata tentang bagaimana cinta kepada Allah mengalahkan segala bentuk cinta dunia.
Allah SWT berfirman,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102)
Allah SWT melanjutkan,
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
"Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya." (QS. Ash-Shaffat: 103)
Dialog ini adalah dialog iman, bukan sekadar percakapan keluarga. Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah yang sangat berat dengan penuh kejujuran, dan Nabi Ismail menjawabnya dengan kepasrahan yang sempurna. Tidak ada penolakan, tidak ada perlawanan. Yang ada hanyalah ketaatan yang lahir dari keyakinan yang kokoh.
Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa ujian terbesar dalam hidup seringkali datang dari sesuatu yang paling kita cintai. Dan justru di situlah Allah menguji kualitas iman seorang hamba.
Hakikat Kurban: Ketakwaan yang Menembus Langit
Allah SWT dengan tegas mengingatkan bahwa esensi kurban bukanlah pada bentuk fisiknya,
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
"Daging-daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menjadi fondasi utama dalam memahami ibadah kurban. Daging dan darah tidak akan pernah sampai kepada Allah. Yang sampai hanyalah ketakwaan. Ini adalah pesan yang sangat kuat bahwa Allah menilai apa yang tersembunyi di dalam hati, bukan sekadar apa yang tampak di permukaan.
Kurban sebagai Jalan Transformasi Diri
Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan ibadah kurban dalam sabdanya,
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
"Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah (hewan kurban)." (HR. Tirmidzi)
Dan dalam hadis lain disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Lebih dari sekadar ibadah ritual, kurban adalah sarana untuk mentransformasi diri. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing—sesuatu yang sangat ia cintai dan sulit ia lepaskan. Bisa berupa harta, jabatan, ambisi, bahkan ego yang terus dipelihara.
Kurban mengajarkan bahwa seorang mukmin harus siap mengorbankan semua itu ketika ia menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan godaan materialisme, pesan ini menjadi semakin relevan. Banyak orang yang rela mengorbankan nilai-nilai agama demi dunia, tetapi enggan mengorbankan dunia demi akhirat.
Padahal, hakikat kurban adalah membalik orientasi hidup: dari dunia menuju akhirat, dari ego menuju penghambaan, dari kepemilikan menuju penyerahan. Ketika seseorang mampu melakukan itu, maka ia telah menapaki jalan para nabi dan orang-orang saleh.
Lebih jauh lagi, kurban juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Ia mengajarkan kepedulian, empati, dan solidaritas. Daging yang dibagikan bukan sekadar makanan, tetapi simbol kasih sayang dan persaudaraan. Ia menghapus sekat antara si kaya dan si miskin, serta menghadirkan kebahagiaan yang merata di tengah masyarakat.
Namun, semua itu akan kehilangan makna jika tidak disertai dengan perubahan dalam diri. Kurban seharusnya menjadikan kita lebih rendah hati, lebih dermawan, dan lebih dekat kepada Allah. Ia seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar perayaan tahunan.
Pada akhirnya, kurban bukan tentang apa yang kita sembelih, tetapi tentang apa yang kita lepaskan dari hati kita. Bukan tentang berapa besar yang kita beri, tetapi seberapa dalam keikhlasan yang menyertainya. Dan bukan tentang banyaknya daging yang dibagikan, tetapi tentang sejauh mana ketakwaan itu tumbuh dalam diri kita.
Jika Ibrahim telah memberikan teladan tentang totalitas pengabdian, maka tugas kita hari ini adalah meneladani semangat itu dalam kehidupan nyata. Sebab, setiap zaman memiliki ujiannya sendiri, dan setiap hamba memiliki kurbannya masing-masing.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
0 Komentar :
Belum ada komentar.