RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Kehadiran Paviliun Indonesia pada Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 menjadi sorotan tersendiri dalam ajang literasi terbesar di kawasan Timur Tengah tersebut. Melalui partisipasi aktif di pameran yang digelar di Egypt International Exhibition Center, Kairo, Indonesia menegaskan kembali perannya dalam percaturan intelektual Islam global setelah hampir dua dekade tidak terlibat secara langsung.
Paviliun Indonesia secara resmi mulai beroperasi pada Rabu (21/1/2026) dan langsung menarik perhatian pengunjung internasional. Beragam karya keilmuan, mushaf Al-Qur’an berkualitas, hingga manuskrip bersejarah Nusantara dipamerkan sebagai representasi kekayaan intelektual dan spiritual Indonesia.
Perwakilan Kementerian Agama RI, Asep Rifqi Abdul Aziz, menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam CIBF bukan sekadar partisipasi simbolik, melainkan langkah strategis untuk memperluas kontribusi pemikiran Islam moderat Indonesia di tingkat global. Indonesia, menurutnya, menghadirkan kombinasi antara karya ilmiah dan praktik nilai keagamaan yang membumi, sebagai wujud Islam yang membawa kemaslahatan.
“Yang kami hadirkan bukan hanya produk pemikiran, tetapi juga praktik nilai keagamaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat,” ungkapnya.
Salah satu fokus utama yang diangkat Paviliun Indonesia adalah tema ekoteologi, yang menekankan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai fondasi peradaban berkelanjutan. Tema ini menjadi bagian dari program strategis Kementerian Agama yang kini diperkenalkan ke forum internasional.
Keterlibatan Indonesia dalam CIBF didukung oleh berbagai lembaga nasional, mulai dari KBRI Kairo, Ditjen Bimas Islam, Ditjen Pendidikan Islam, BPKH, BAZNAS, BWI, LPMQ, UPQ, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), hingga LEMKA.
Dari sisi diplomasi, Paviliun Indonesia juga menjadi ruang perjumpaan budaya dan dialog pemikiran. Kuasa Usaha ad Interim KBRI Kairo, M. Zaim A. Nasution, menilai partisipasi ini sebagai bagian penting dari penguatan diplomasi kebudayaan dan keagamaan Indonesia di dunia Arab.
Ia menyebut kehadiran kembali Indonesia di CIBF sebagai momentum strategis untuk mempererat hubungan Indonesia–Mesir, sejalan dengan kerja sama kemitraan strategis kedua negara yang disepakati pada 2025.
Daya tarik Paviliun Indonesia semakin terasa melalui berbagai aktivitas interaktif, salah satunya demonstrasi Mushaf Al-Qur’an Isyarat yang memberikan pengalaman baru bagi pengunjung Mesir. Pendekatan inklusif ini menjadi bukti kontribusi Indonesia dalam memperluas akses terhadap Al-Qur’an bagi semua kalangan.
Tak hanya itu, koleksi manuskrip kuno, karya ulama Nusantara bertema lingkungan, serta beragam mushaf modern produksi UPQ memperlihatkan keseriusan Indonesia dalam mengembangkan literasi keislaman berkualitas di tingkat global.
Dengan kehadiran Paviliun Indonesia di CIBF 2026, Indonesia tak hanya hadir sebagai peserta pameran, tetapi sebagai aktor penting yang membawa pesan keilmuan, moderasi Islam, dan kontribusi peradaban ke panggung dunia. [RUTE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.