Internasional

Polisi Sydney Tarik Paksa Jamaah Shalat Saat Protes Kunjungan Presiden Israel

Polisi Sydney Tarik Paksa Jamaah Shalat Saat Protes Kunjungan Presiden Israel
Polisi Sydney kedapatan bubarkan paksa jamaah shalat di tengah aksi protes kunjungan presiden Israel. (gambar : SBS)

RUANGTENGAH.co.id, Sydney - Ketegangan meningkat di Sydney, Australia, setelah kepolisian New South Wales (NSW) terekam kamera membubarkan paksa sekelompok pria Muslim yang sedang melaksanakan shalat berjamaah.

 

Insiden ini terjadi di tengah aksi protes ribuan orang yang menentang kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, pada Senin malam (9/2/2026).

 

Syekh Wesam Charkawi, tokoh agama yang memimpin shalat tersebut, memberikan kesaksian emosional mengenai kejadian tersebut. Berbicara kepada media, ia menggambarkan tindakan polisi sebagai perilaku yang "tidak terkendali" (unhinged) dan sangat agresif.

 

"Saya merasa bahu saya hampir lepas dari engselnya karena ditarik paksa saat sedang beribadah," ungkap Syekh Charkawi. Ia menegaskan bahwa jamaah tidak sedang melakukan pembangkangan sipil melalui shalat tersebut. 

 

Menurutnya, mereka hanya menunaikan kewajiban agama yang sempat tertunda 15 menit karena hiruk-pikuk demonstrasi, dan memilih lokasi di trotoar yang dianggap tidak menghalangi jalan.

 

Berdasarkan laporan The Guardian, rekaman video dari lokasi kejadian di depan Sydney Town Hall menunjukkan petugas polisi merangsek masuk ke tengah shaf shalat. Beberapa petugas terlihat menarik pakaian dan menyeret tubuh para pria yang sedang dalam posisi bersujud.

 

Laporan tersebut juga mencatat bahwa polisi menggunakan kekuatan fisik dan semprotan merica (pepper spray) untuk mengendalikan massa setelah protes yang semula damai berubah menjadi ricuh ketika demonstran mencoba melakukan long march yang tidak berizin menuju lokasi tempat Presiden Herzog dijamu.

 

Tindakan polisi ini memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak. Aftab Malik, utusan khusus Australia untuk Islamofobia, menyatakan bahwa intervensi polisi terhadap ibadah agama adalah tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima dan menuntut adanya akuntabilitas.

 

Sementara, Dewan Muslim NSW menuntut permintaan maaf resmi dari pemerintah negara bagian dan mendesak adanya penyelidikan independen terhadap taktik kepolisian yang dinilai terlalu represif.

 

Meskipun banyak kecaman, Premier NSW, Chris Minns, menyatakan dukungannya terhadap kepolisian. Ia berpendapat bahwa petugas berada dalam situasi yang sangat tertekan untuk menjaga keamanan publik di tengah kerumunan yang besar. 

 

Namun, pembelaan ini justru semakin memicu perdebatan mengenai batas antara penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan beragama di Australia. [RUTE/THEGUARDIAN]

0 Komentar :

Belum ada komentar.