RUANGTENGAH.co.id, Jenewa - Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, Badan Anak-Anak PBB (UNICEF) akhirnya berhasil menyalurkan perlengkapan sekolah ke Jalur Gaza. Pengiriman ini menjadi angin segar bagi ribuan anak yang selama ini terputus dari fasilitas pendidikan akibat pembatasan bantuan.
Ribuan paket bantuan berisi pensil, buku latihan, serta mainan edukatif kini telah memasuki Gaza sebagai bagian dari upaya memulihkan proses belajar di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Juru bicara UNICEF, James Elder, menyampaikan bahwa pengiriman tersebut mencakup ribuan perlengkapan rekreasi dan ratusan paket alat belajar, serta akan dilanjutkan dengan ribuan paket tambahan dalam waktu dekat.
“Kami dalam beberapa hari terakhir menerima ribuan perlengkapan bermain dan ratusan paket perlengkapan sekolah. Bahkan, dalam sepekan ke depan kami berencana menambah sekitar 2.500 paket lagi setelah mendapatkan persetujuan,” ujar Elder.
Hingga saat ini, COGAT — lembaga militer Israel yang mengatur masuknya bantuan ke Gaza — belum memberikan tanggapan terkait pengiriman tersebut.
UNICEF menilai anak-anak Gaza mengalami tekanan luar biasa terhadap sistem pendidikan mereka. Banyak sekolah rusak atau tidak bisa digunakan, sementara masuknya alat bantu belajar sempat dibatasi, memaksa guru mengajar dengan fasilitas seadanya. Tak sedikit anak yang belajar di tenda tanpa penerangan memadai.
Kondisi ini diperparah dengan krisis kebutuhan dasar, mulai dari kekurangan air bersih hingga malnutrisi yang meluas. Sebagian anak bahkan kehilangan akses pendidikan sepenuhnya sejak konflik berkecamuk.
“Ini adalah masa yang sangat berat bagi anak-anak Gaza dan juga bagi kami yang berupaya mempertahankan pendidikan tanpa perlengkapan yang memadai. Kini kami mulai melihat adanya perubahan nyata,” kata Elder.
Saat ini UNICEF memperluas program pendidikan darurat untuk menjangkau sekitar 336.000 anak usia sekolah, atau hampir separuh populasi pelajar di Gaza. Proses belajar masih banyak dilakukan di tenda-tenda sementara karena sebagian besar gedung sekolah rusak akibat perang.
Penilaian satelit PBB pada Juli lalu menunjukkan sekitar 97 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan dalam berbagai tingkat.
Di sisi lain, Israel menuding Hamas dan kelompok bersenjata lain menggunakan fasilitas sipil, termasuk sekolah, untuk aktivitas militer dan menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia.
Sebagian besar pusat belajar yang difasilitasi UNICEF kini berada di wilayah tengah dan selatan Gaza, karena wilayah utara masih sangat sulit diakses akibat kehancuran parah selama pertempuran.
Serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut otoritas Israel. Sementara serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 71.000 warga Palestina, berdasarkan data otoritas kesehatan Gaza.
UNICEF melaporkan lebih dari 20.000 anak menjadi korban jiwa, termasuk 110 anak sejak gencatan senjata Oktober tahun lalu. [RUTE/ARABNEWS]
0 Komentar :
Belum ada komentar.