RUANGTENGAH.co.id, Kairo - Di balik megahnya dinding batu dan perdebatan akademik di Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Kairo, ada senyum lega dari seorang putra asal Medan, Sumatera Utara. Dr. Indra Gunawan, Lc., M.A., resmi menuntaskan perjalanan panjangnya dan diakui sebagai orang Indonesia pertama yang merengkuh gelar doktor dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam di universitas Islam tertua dunia tersebut.
Tak sekadar lulus, sidang doktoral yang digelar pada pertengahan Oktober 2026 ini menganugerahinya predikat tertinggi: Summa Cum Laude (Martabat Syaraf Ula).
Menghidupkan Kembali Otoritas Kesultanan Nusantara
Perjuangan Indra bukan sekadar formalitas mengejar gelar. Dalam disertasinya, ia memilih mengangkat kejayaan Kerajaan Samudra Pasai—sebuah kekuatan maritim Islam di tanah air yang pernah memegang otoritas (siyadah) penting dalam penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.
Di hadapan penguji ternama seperti Prof. Dr. Mohammed Ahmed Hasaballah dan Prof. Dr. Mohsen Saad Abdullah Naser, Indra mempertahankan karya ilmiahnya dengan tangguh. Ia membawa narasi sejarah kebesaran Nusantara ke panggung akademik Timur Tengah, membuktikan bahwa sejarah Islam di Indonesia memiliki kedudukan ilmiah yang sejajar dan bernilai tinggi bagi peradaban dunia.
Sidang ini juga disaksikan langsung oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Prof. Abdul Muta'ali, beserta puluhan mahasiswa Indonesia yang larut dalam rasa bangga.
Pesan Prof. Quraish Shihab dan Keyakinan Diri
Keberhasilan Indra berakar dari prinsip hidup dan tekad yang kuat. Ia memegang teguh nasehat legendaris dari mantan Duta Besar RI untuk Mesir, Prof. Dr. Quraish Shihab, yang pernah mengingatkan bahwa "Persaingan masa depan adalah persaingan spesialisasi."
Berbekal dorongan itu, Indra memberanikan diri menekuni cabang ilmu sejarah, jalur studi yang masih amat langka diambil oleh para mahasiswa Indonesia di Al-Azhar.
Di tengah naik turunnya perjuangan di perantauan, kekuatan terbesarnya adalah spiritualitas. Bagi Indra, kedekatan dengan Sang Pencipta adalah penentu langkahnya.
"Privilege yang membuat hidup tenang adalah saat kita dekat dengan Allah. Ketika kita menjauh, segalanya pun menjadi berantakan dan tak menentu. Semua urusan hidup mesti selalu melibatkan Yang di Atas," ungkap Indra merenungi perjalanannya.
Kini, langkah anak bangsa kelahiran Tanah Deli ini telah membuka jalan baru. Dr. Indra Gunawan tidak hanya membawa pulang ijazah doktor, tetapi juga harapan baru untuk literasi sejarah Islam Nusantara agar terus terangkat dan dikenal luas di kancah internasional.[RUTE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.