Internasional

Menag Tawarkan Pluralisme Progresif dan Ekoteologi Nusantara di Forum Perdamaian Dunia

Menag Tawarkan Pluralisme Progresif dan Ekoteologi Nusantara di Forum Perdamaian Dunia
Menag Nasaruddin Umar menjadi pembicara kunci dalam "Forum 16 – Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi." (Gambar : Kemenag)

RUANGTENGAH.co.id, Assisi, Italia — Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menawarkan dua gagasan dari pengalaman Indonesia untuk memperkuat perdamaian dunia, yakni pluralisme progresif dan ekoteologi Nusantara.

Kedua gagasan tersebut disampaikan dalam Forum 16 – Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi, bagian dari Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertajuk Unarmed and Disarming Peace di Casa Leonori, Assisi, Italia, Senin (26/10/2026).

Di hadapan para tokoh agama dunia, Nasaruddin menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam membangun kehidupan beragama di tengah keberagaman. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi upaya mewujudkan peradaban yang ramah, progresif, dan inklusif.

Dua gagasan yang ditawarkan Menag berangkat dari upaya melampaui toleransi formal dan mengubah cara manusia memandang alam. Dalam forum tersebut, ia juga mengajak para pemimpin agama memanfaatkan nilai-nilai spiritual untuk memperkuat diplomasi perdamaian dan menjawab krisis lingkungan.

Pluralisme Progresif: Melampaui Toleransi Formal

Nasaruddin menjelaskan bahwa pluralisme progresif atau beyond tolerance menempatkan kerukunan bukan sekadar sebagai sikap membiarkan perbedaan, melainkan sebagai penghormatan tulus terhadap keberagaman.

Menurutnya, kehidupan masyarakat di Nusantara menunjukkan bahwa hubungan antarumat beragama tidak semestinya dibangun berdasarkan ego mayoritas dan minoritas. Perbedaan perlu dihormati tanpa memaksakan penyeragaman.

“Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama,” ujar Nasaruddin dalam forum tersebut, sebagaimana dikutip dalam keterangan kegiatan.

Melalui pendekatan ini, Menag menawarkan pengalaman Indonesia sebagai salah satu rujukan dalam membangun hubungan antarumat beragama yang menghargai perbedaan sekaligus menjaga kebersamaan.

Ia juga mengajak para pemimpin dunia menempatkan bahasa agama sebagai instrumen diplomasi internasional. Menurutnya, nilai-nilai spiritual dapat membantu meredakan permusuhan, membuka ruang dialog, dan mendorong penyelesaian krisis kemanusiaan yang tidak selalu dapat diatasi melalui pendekatan politik semata.

Ekoteologi Nusantara: Merawat Alam sebagai Tanggung Jawab Spiritual

Gagasan kedua yang disampaikan Nasaruddin adalah ekoteologi Nusantara atau beyond domination. Ia mengaitkan krisis iklim dengan cara pandang yang menempatkan alam semata-mata sebagai objek untuk dikuasai dan dieksploitasi.

Melalui perspektif sufistik Islam, Nasaruddin mengajak manusia mengedepankan nilai rahmah atau kasih sayang dalam memandang alam. Ia menggunakan konsep tajalli, yakni manifestasi keindahan Tuhan, untuk mengajak manusia melihat alam bukan hanya sebagai sumber daya, melainkan juga sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

“Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak,” tegasnya.

Sebagai contoh penerapan ekoteologi, Nasaruddin memaparkan pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta. Ia menyebut masjid tersebut telah memperoleh sertifikasi bangunan hijau EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) dari International Finance Corporation (IFC).

Menurut paparan Menag, upaya peremajaan ramah lingkungan di Masjid Istiqlal, termasuk penggunaan panel surya dan pengelolaan air wudu yang efisien, menghasilkan penghematan energi sebesar 23 persen dan air hingga 36 persen.

Pengalaman tersebut ditawarkan sebagai contoh bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam merawat lingkungan dan merespons tantangan perubahan iklim.

Tokoh Agama Dunia Tanggapi Gagasan Indonesia

Paparan Nasaruddin mendapat tanggapan dari sejumlah tokoh yang hadir dalam forum tersebut. David Rosen, Penasihat Khusus Abrahamic Family House di Uni Emirat Arab, menekankan pentingnya menerjemahkan semangat Assisi menjadi tindakan persaudaraan yang konkret di tingkat masyarakat untuk meredam polarisasi.

Tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai dari Jepang, Megumi Hirota Wada, turut menyoroti pentingnya menjaga kelestarian bumi sebagai tanggung jawab spiritual bersama. Menurutnya, harmoni antara manusia dan alam merupakan bagian penting dari upaya membangun perdamaian.

Kardinal George Jacob Koovakad, Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama Takhta Suci, menyambut paparan Menag dan menyoroti model kerukunan Indonesia serta Deklarasi Istiqlal 2024 sebagai salah satu rujukan bagi pengembangan dialog dan kerja sama kemanusiaan.

Sementara itu, Touch Sarith, Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association dari Kamboja, menyoroti gagasan pluralisme progresif yang menolak dominasi mayoritas atas minoritas.

Adapun Prof. W. Cole Durham, pakar hukum dan kebebasan beragama internasional, melihat paparan tersebut sebagai bahan bagi pengembangan pendekatan hukum dan kebebasan beragama yang juga memperhatikan keadilan ekologis (eco-justice).

Dua delegasi sipil dan pengamat perdamaian, Mohammed Esslimani dan Valerie Reginer, juga menyoroti gagasan penggunaan bahasa agama dalam diplomasi internasional sebagai upaya membangun dialog dan meredakan permusuhan di wilayah konflik.

Dalam agenda kunjungan berikutnya, Nasaruddin dijadwalkan menuju Vatikan untuk bertemu Menteri Luar Negeri Takhta Suci dan membahas penguatan kemitraan strategis. Kunjungan tersebut juga mencakup penjajakan kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI).

Nasaruddin didampingi Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt. Dirjen Bimas Katolik, Adiyarto Sumardjono, dalam kunjungan ke Italia tersebut. [RUTE/Kemenag]

0 Komentar :

Belum ada komentar.