RUANGTENGAH.co.id, Gaza City - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memasuki fase yang mengkhawatirkan. Di tengah runtuhnya sistem sanitasi, ancaman baru kini muncul: ledakan populasi tikus yang menyebar cepat di kamp-kamp pengungsian dan kawasan permukiman.
Laporan dari media The New Arab mengungkapkan, tumpukan sampah yang tak terangkut, kebocoran saluran pembuangan, serta kepadatan hunian akibat pengungsian massal telah menciptakan lingkungan ideal bagi tikus untuk berkembang biak.
Kondisi ini tidak hanya memperparah penderitaan warga, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai penyakit mematikan.
WHO: Ancaman Penyakit Mengintai, Anak-Anak Paling Rentan
World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa runtuhnya sistem air dan sanitasi di Gaza telah memicu risiko kesehatan masyarakat yang sangat serius.
Dalam pernyataannya kepada Arab News, WHO menegaskan bahwa limbah yang tidak terkelola, air yang terkontaminasi, serta lingkungan yang padat telah menyebabkan lonjakan berbagai penyakit.
“Terjadi peningkatan tajam kasus diare akut, sindrom penyakit kuning, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan yang menyebar cepat dalam kondisi seperti ini,” tulis WHO.
Lebih mengkhawatirkan lagi, limbah mentah yang meresap ke dalam air tanah menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya patogen berbahaya dan hama.
Kelompok paling rentan adalah anak-anak, bayi, serta warga yang mengalami kekurangan gizi. Dalam kondisi ini, penyakit ringan sekalipun bisa berkembang menjadi fatal.
Tangisan Bayi 30 Hari
Di tengah situasi yang semakin genting, sebuah peristiwa memilukan menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan di Gaza saat ini. Seorang bayi berusia 30 hari, Adam Al-Ostaz, dilaporkan digigit tikus saat tidur di tenda pengungsian keluarganya di Kota Gaza.
Ibunya terbangun di tengah malam oleh jeritan sang bayi. Saat lampu dinyalakan, ia mendapati darah mengalir di wajah anaknya—sementara seekor tikus besar bersembunyi di sudut tenda.
Bayi tersebut segera dilarikan ke rumah sakit. Para dokter menyebut upaya penyelamatan sebagai “perlombaan melawan waktu.” Peristiwa ini menjadi simbol nyata dari krisis yang tak lagi sekadar angka, tetapi telah menyentuh sisi paling rentan dari kemanusiaan.
Infrastruktur Hancur, Risiko Jangka Panjang Mengintai
Sejak Oktober 2023, sebagian besar infrastruktur air dan sanitasi di Gaza dilaporkan telah rusak atau hancur akibat konflik yang terus berlangsung. Diperkirakan sekitar 80 hingga 90 persen sistem tersebut tidak lagi berfungsi.
Blokade yang berlangsung juga memperparah situasi dengan membatasi masuknya pasokan penting, termasuk air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan sanitasi. WHO menegaskan bahwa tanpa intervensi segera, krisis ini akan terus memburuk dan menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Organisasi tersebut mendesak langkah-langkah darurat, seperti penyediaan air bersih melalui distribusi truk, perbaikan sistem pipa, peningkatan pengawasan penyakit, serta distribusi obat-obatan dan perlengkapan kebersihan.
“Pemulihan layanan air, sanitasi, dan kesehatan sama pentingnya dengan perawatan medis itu sendiri,” tegas WHO. “Tanpa itu, pengendalian penyakit tidak mungkin tercapai,” sambungnya. [RUTE/ARABNEWS]
0 Komentar :
Belum ada komentar.