RUANGTENGAH.co.id, Brebes - Di sebuah ruang yang hangat di YPPP Al Hikmah 2, Benda, para perempuan itu berkumpul. Bukan sekadar untuk bertemu, tetapi untuk saling menguatkan. Silaturahmi yang digelar oleh Wihdah Azhariyyah Indonesia (WAZIN) DPW Jawa Tengah, Sabtu (3/5), terasa lebih dari agenda organisasi biasa—ia menjadi ruang bertumbuh.
Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, pertemuan ini menghadirkan satu pesan yang senyap namun kuat: perempuan bukan hanya bagian dari cerita, tetapi juga penentu arah.
Ruang Bertemu, Ruang Bertumbuh
Kegiatan bertajuk Silaturahmi dan Dialog Keperempuanan ini mempertemukan para Muslimah dari berbagai latar. Mereka datang membawa pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapan yang sama : bagaimana mengambil peran lebih besar dalam dakwah dan kehidupan sosial.
Hadir dalam kesempatan itu sejumlah tokoh dari jajaran DPP WAZIN, di antaranya Ketua WAZIN Dr. Elly Warti Maliki, Sekretaris Jenderal Dr. Iffatul Umniyati Ismail, serta Ketua WAZIN Jawa Tengah, Hj. Ismatul Maula.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbol struktural, tetapi menjadi penanda bahwa gerakan perempuan dalam tubuh organisasi ini terus dirawat dan diarahkan. Tak hanya dialog, kegiatan ini juga diisi dengan pengukuhan pengurus WAZIN Jawa Tengah—sebuah momentum penting yang menandai dimulainya langkah baru.
Menggerakkan dengan Nilai Wasathiyah
Dalam sambutannya, Ketua WAZIN Jawa Tengah yang baru dilantik, Hj. Ismatul Maula, menyampaikan rasa haru sekaligus optimisme. Ia mengajak seluruh jajaran untuk melangkah bersama, menghidupkan nilai wasathiyah—jalan tengah yang diajarkan oleh Al-Azhar—sebagai fondasi gerakan.
Ajakan ini terasa relevan. Di tengah berbagai tarikan ekstrem dalam wacana keagamaan, pendekatan moderat bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan. Perempuan, dalam konteks ini, tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai penggerak yang memiliki daya jangkau luas—dari keluarga hingga masyarakat.
Dari Silaturahmi Menuju Kesadaran Kolektif
Dialog yang berlangsung tidak berhenti pada tataran wacana. Ia membuka ruang refleksi tentang posisi strategis perempuan dalam berbagai lini kehidupan: pendidikan keluarga, penguatan nilai di masyarakat, hingga kesinambungan dakwah.
Di sinilah pentingnya forum seperti ini. Ia tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi menjadi ruang untuk membangun kesadaran kolektif—bahwa perempuan memiliki peran yang tidak bisa ditunda.
Lebih dari itu, silaturahmi ini menjelma menjadi modal sosial. Jejaring yang terbangun diharapkan tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi berlanjut dalam kerja nyata yang saling menguatkan.
Melampaui Ruang Domestik
Kegiatan ini seolah menegaskan satu hal: peran perempuan tidak lagi bisa dibatasi hanya pada ruang domestik. Ia telah, dan akan terus, hadir di ruang publik—dalam organisasi, dalam gerakan sosial, dan dalam proses pemberdayaan masyarakat.
WAZIN Jawa Tengah tampaknya memahami betul hal ini. Melalui forum seperti ini, mereka tidak hanya mengonsolidasikan kekuatan internal, tetapi juga menyiapkan langkah menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Di Benda, Sabtu itu, yang terbangun bukan hanya percakapan. Tetapi juga harapan—bahwa perempuan, dengan jejaring dan kesadarannya, mampu menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga arah masyarakat. [RUTE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.