Nasional

MUI Dorong Islam Wasathiyah Jadi Solusi untuk Stabilitas Global

MUI Dorong Islam Wasathiyah Jadi Solusi untuk Stabilitas Global

RUANGTENGAH.co.id, Jakarta - Di tengah meningkatnya eskalasi konflik global, khususnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan pentingnya Islam wasathiyah sebagai jalan tengah untuk menjaga perdamaian dunia.

 

Komitmen tersebut mengemuka dalam Kajian Wasathiyah Lintas Negara bertema “Islam Wasathiyah dan Kontribusi Indonesia dalam Diplomasi Global” yang digelar Komisi Dakwah MUI secara daring, Minggu (1/2/2026).

 

Kajian ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan diplomat Indonesia, antara lain Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Arif Fachrudin, Duta Besar RI untuk Turki Rizal Purnama, serta Duta Besar RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi.

 

Moderator diskusi, KH Khariri Makmun, yang juga merupakan Ketua Pokja Luar Negeri Komisi Dakwah MUI, membuka kajian dengan menyoroti realitas global saat ini yang cenderung mengedepankan konfrontasi militer ketimbang diplomasi.

 

Menurutnya, situasi tersebut menuntut peran aktif tokoh agama dalam menawarkan pendekatan damai yang berkeadilan.

 

Dalam pemaparannya, Dubes RI untuk Turki Rizal Purnama mengulas dinamika pemikiran keagamaan dan kebangsaan di Turki. Ia menjelaskan pergeseran dari era Islamist menuju post-Islamist, di mana Islam tidak lagi dijadikan ideologi politik, melainkan identitas sosial yang hidup berdampingan dengan demokrasi dan keterbukaan global.

 

“Turki tetap memiliki akar keislaman yang kuat, namun lebih inklusif dalam membangun relasi internasional. Pendekatan ini mendorong kemajuan signifikan, termasuk dominasi industri drone yang kini menguasai sekitar 60 persen pasar dunia,” ujar Rizal.

 

Sementara itu, Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi menekankan pentingnya membawa gagasan Islam wasathiyah ala Indonesia ke panggung internasional. Menurutnya, model Islam Indonesia memiliki keunggulan karena lebih mudah diterima oleh masyarakat global, termasuk di Eropa.

 

Dubes Zuhairi merekomendasikan MUI untuk go global dengan menjalin kerjasama dengan para ulama di berbagai negara, dijembatani oleh kantor-kantor perwakilan RI. Tujuannya adalah mensosialisasikan wasathiyatul Islam kepada masyarakat yang lebih luas. 

 

Namun, ia mengingatkan bahwa dakwah wasathiyah menghadapi tantangan serius, terutama faktor geopolitik dan dominasi kekuatan besar seperti Amerika Serikat. Ia menyinggung dampak konflik dan serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang berpotensi melahirkan ekstremisme baru lintas agama.

 

“Serangan terhadap Iran bisa memicu fundamentalisme, baik di kalangan Muslim maupun Kristen. Dari situ, terorisme bisa kembali tumbuh. Ini tantangan besar bagi dakwah Islam wasathiyah,” kata Zuhairi.

 

Ia juga menyoroti narasi konflik Sunni–Syiah yang terus dipelihara untuk melemahkan umat Islam. “Kalau umat Islam ingin kuat, Sunni dan Syiah harus bersatu. Upaya taqrib baina al-mazahib harus dimulai dari persatuan ormas-ormas Islam di bawah MUI,” tegasnya.

 

Pembicara terakhir, Wasekjen MUI Arif Fachrudin, menyoroti posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Ia menyerukan evaluasi keanggotaan Indonesia menyusul sikap dan tindakan Israel serta Amerika Serikat yang dinilai memperburuk konflik global.

 

Menutup diskusi, moderator Kiai Khariri menegaskan bahwa Islam wasathiyah harus terus dikembangkan sebagai solusi etis dan spiritual bagi krisis global. Ia menilai MUI, sebagai rumah besar ormas Islam Indonesia, memiliki peran strategis dalam bekerja sama dengan perwakilan diplomatik RI untuk mengangkat Islam Indonesia, nilai wasathiyah, dan Pancasila sebagai pesan perdamaian dunia. [RUTE]

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.