Oleh : Nurdin Apud Sarbini
Pengasuh Ponpes Islam Internasional Al-Andalus Jonggol, Bogor
Bulan Ramadan sering kali kita agungkan sebagai syahrul tarbiyah atau bulan pendidikan. Namun, di tengah kekhusyukan ibadah tahun ini, nurani kita tersayat oleh rentetan berita memilukan. Tragedi bunuh diri anak di NTT dan Demak, hingga kasus sangat kelam di Bandung di mana seorang anak menjadi pelaku penghilangan nyawa sesamanya, menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Bahkan, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut bahwa angka bunuh diri anak di RI adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.
Fenomena ini bukan sekadar statistik kriminalitas, melainkan sinyal bahaya bahwa sistem perlindungan dan fondasi pendidikan generasi kita sedang keropos dan rapuh. Jika puasa adalah junnah (perisai) bagi pelaksananya, maka sudah semestinya pendidikan menjadi perisai bagi anak-anak kita dari keputusasaan dan marabahaya.
Mengembalikan Fitrah di Madrasah Ramadan
Dalam perspektif Islam, seorang anak lahir dalam keadaan suci. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari & Muslim).
Fitrah ini adalah potensi kebaikan dan kecenderungan pada kebenaran. Kasus kekerasan yang melibatkan anak—baik sebagai korban maupun pelaku—menandakan bahwa fitrah tersebut telah tertutup oleh berbagai sebab seperti kabut depresi, tekanan sosial, atau pengabaian yang akut. Ramadan ini seharusnya menjadi momentum untuk "mencuci" kembali fitrah tersebut. Pendidikan bukan lagi soal angka di atas kertas, melainkan soal bagaimana menjaga agar cahaya fitrah anak tidak padam oleh kerasnya dunia.
Banyaknya kasus anak yang memilih mengakhiri hidup atau justru merenggut nyawa orang lain menunjukkan rapuhnya ketahanan mental dan spiritual. Di sinilah relevansi perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini bukan sekadar perintah ritual, melainkan instruksi perlindungan (wiqayah). Mendidik anak agar memiliki ketangguhan adalah bentuk perlindungan dari "neraka dunia" (depresi, perundungan, dan kekerasan) serta neraka di akhirat. Pendidikan yang melindungi adalah pendidikan yang memberikan ruang bagi anak untuk didengar, bukan hanya dituntut.
Dan, Ramadan kali ini menjadi waktu yang sangat tepat bagi kita untuk berupaya mengembalikan anak-anak kita kepada fitrahnya dan memperkuatnya.
Memutus Rantai Kekerasan
Tragedi di Bandung di mana pelaku kekerasan adalah anak-anak merupakan potret ekstrem dari hilangnya kendali diri. Ramadan menjadi sekolah tentang self-control (imsak). Jika kita hanya mendidik anak untuk pintar secara intelektual namun kering secara akhlak, maka kita sedang menciptakan "bom waktu" yang bisa meledak kapan saja dan menimbulkan korban bisa siapa saja.
Islam menekankan bahwa kedekatan emosional dan kelembutan adalah kunci. Maka, Rasulullah SAW memberikan keteladan dengan tidak pernah memukul anak kecil dan selalu memberikan validasi atas perasaan mereka. Tanpa kasih sayang yang tuntas di rumah, anak-anak akan mencari validasi di luar, yang sering kali justru menjerumuskan mereka pada perilaku destruktif.
Maraknya kasus kekerasan anak akhir-akhir ini dan tibanya bulan suci Ramadan, maka ini merupakan ajakan untuk muhasabah. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah memberikan "nutrisi" jiwa terhadap anak-anak kita? Sebagaimana kita sibuk menyiapkan menu buka puasa, sudahkah kita menyiapkan telinga untuk mendengar keluh kesah anak dan mengapresiasi sesederhana apapun prestasi mereka?
Kemudian, apakah kita juga sudah berupaya menghadirkan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang mereka? Karena, Islam mengajarkan lingkungan yang kondusif untuk mendukung tumbuh kembang anak menjadi anak yang shalih (bi'ah shalihah).
Menjamin pendidikan anak yang berbasis kasih sayang dan nilai-nilai agama adalah investasi perlindungan masa depan yang paling nyata. Jangan biarkan masa depan mereka hancur hanya karena kita lalai menjadi pendengar yang baik.
Mari jadikan Ramadan ini sebagai titik balik untuk memperkuat pertahanan keluarga. Sebab, menyia-nyiakan perlindungan terhadap anak adalah bentuk "puasa" yang kehilangan esensinya; kita menahan lapar, namun membiarkan tunas bangsa mati dalam kesunyian dan kekerasan.[]
0 Komentar :
Belum ada komentar.