Rentetan berita tentang anak-anak yang terjerat bunuh diri, kekerasan, hingga pembunuhan—baik sebagai korban maupun pelaku—bukan sekadar kabar kriminal yang mengisi ruang pemberitaan. Ia adalah peringatan serius tentang kondisi generasi kita.
Ketika anak-anak kehilangan harapan, empati, dan kendali diri, sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan hanya masa depan mereka, tetapi juga tanggung jawab orang-orang dewasa di sekelilingnya.
Karena, anak-anak tidak tumbuh dalam ruang hampa. Mereka adalah produk dari rumah yang mereka huni, sekolah yang mereka jalani, lingkungan sosial yang mereka serap, serta dunia digital yang nyaris tanpa sekat.
Ketika rumah kehilangan kehangatan, ketika orang tua lebih sibuk dengan gawai daripada mendengar kegelisahan anak, ketika pendidikan direduksi menjadi angka dan peringkat, maka jangan heran jika sebagian anak tumbuh tanpa daya tahan batin. Dalam kondisi seperti itu, kekerasan dan keputusasaan kerap menjadi jalan pintas yang dipilih.
Di sinilah Bulan Ramadan hadir sebagai momentum refleksi kolektif. Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan yang berulang tanpa bekas. Ia adalah madrasah pengendalian diri, empati, dan kepekaan sosial. Nilai-nilai inilah yang justru kian menipis dalam kehidupan anak-anak kita hari ini.
Puasa mengajarkan batas, kesabaran, dan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi—pelajaran mendasar yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda.
Bagi orang tua, Ramadan semestinya menjadi waktu untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: apakah rumah benar-benar telah menjadi tempat paling aman bagi anak-anak? Aman untuk berbicara, aman untuk mengeluh, aman untuk salah tanpa takut dicemooh.
Karena sejatinya, anak-anak tidak selalu membutuhkan nasihat panjang; sering kali mereka hanya butuh didengarkan. Ramadan menyediakan ruang kebersamaan—sahur, berbuka, dan malam-malam ibadah—yang seharusnya bisa dihidupkan sebagai waktu mendekatkan hati, bukan sekadar memenuhi kewajiban ritual.
Bagi para pendidik dan tokoh masyarakat, fenomena ini menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik. Anak-anak perlu dibimbing agar mengenal makna hidup, mampu mengelola emosi, dan memahami nilai kehidupan manusia.
Pendidikan karakter bukan slogan, melainkan proses panjang yang membutuhkan keteladanan. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang sekadar mereka dengar.
Sementara itu, bagi para pemegang kebijakan, maraknya tragedi yang melibatkan anak-anak adalah alarm keras bahwa perlindungan generasi tidak bisa ditangani secara parsial. Isu kesehatan mental anak, pengasuhan keluarga, kualitas pendidikan, hingga pengawasan ruang digital membutuhkan keberpihakan nyata dan kebijakan yang berkesinambungan.
Menjaga generasi bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi moral dan sosial yang menentukan arah bangsa. Ramadan mengajarkan bahwa ibadah sejati selalu berdampak sosial. Puasa yang tidak melahirkan empati, dan ibadah yang tidak menggerakkan kepedulian, patut dipertanyakan maknanya.
Anak-anak adalah amanah bersama. Ketika mereka terluka, tersesat, atau kehilangan harapan, itu bukan sekadar kegagalan individu, melainkan cermin dari kelalaian kolektif.
Maka, Ramadan tahun ini seharusnya tidak berlalu sebagai rutinitas semata. Ia mesti menjadi titik balik kesadaran: bahwa menjaga generasi adalah tanggung jawab semua, dan bahwa masa depan bangsa sedang dipertaruhkan dalam cara kita memperlakukan anak-anak hari ini.[]
0 Komentar :
Belum ada komentar.