RUANGTENGAH.co.id, Ramallah - Hamdan Ballal, salah satu sutradara film dokumenter pemenang Oscar 'No Other Land', menjadi korban kekerasan oleh pemukim Israel di Desa Susya, Tepi Barat, Palestina.
Ia dilaporkan dipukuli oleh sekelompok pemukim sebelum akhirnya ditahan oleh militer Israel dalam keadaan terluka.
Menurut Basel Adra, rekan sutradara Ballal yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, serangan terjadi pada Senin malam (24/3), tak lama setelah warga setempat berbuka puasa.
"Mereka datang tiba-tiba. Hamdan dipukuli hingga terluka sebelum tentara Israel membawanya pergi," ungkap Adra, yang juga co-sutradara No Other Land.
Yang lebih mengejutkan, tentara Israel justru menyerbu ambulans yang membawanya untuk mendapatkan perawatan medis.
Dalam unggahan di X, Abraham menceritakan bahwa Ballal dipukuli hingga mengalami luka di kepala dan perdarahan internal.
Baca juga : ‘No Other Land’ Menangkan Oscar: Film Dokumenter Tentang Perjuangan Palestina
"Mereka menculiknya. Tidak ada kabar tentang keberadaannya sejak kejadian," tulis Abraham.
Sementara itu, kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa empat warga Palestina, termasuk Ballal, terluka dalam serangan pemukim bersenjata yang melempari batu ke rumah dan kendaraan warga.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi dan lokasi Ballal masih belum jelas. Insiden ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendesak perlindungan bagi warga Palestina.
Film No Other Land yang disutradarai bersama oleh aktivis Israel dan Palestina, memenangkan Oscar untuk Dokumenter Terbaik tahun ini. Dokumenter ini mengisahkan perjuangan pemuda Palestina melawan penggusuran paksa di Masafer Yatta, wilayah yang dinyatakan sebagai zona militer terlarang oleh Israel sejak 1980-an.
Kecaman MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan duka atas nasib Ballal dan mengecam kekejaman Israel.
"Kami berduka atas apa yang menimpa Hamdan Ballal. Semoga ia segera ditemukan dalam keadaan selamat dan mendapat perawatan yang layak," bunyi rilis MUI, Selasa (25/3), seperti dilansir CNNIndonesia.
MUI menyebut No Other Land sebagai bentuk dokumenter nyata kejahatan Israel. "Film ini dengan kuat mengekspos narasi kejahatan Israel yang didukung pemerintah AS," tegas MUI.
MUI juga mendesak masyarakat internasional, khususnya kalangan seniman, intelektual, dan agamawan, untuk bersatu melawan kekejaman sistemik Israel. "Jangan biarkan kehidupan dan peradaban dihancurkan. Penjahat perang harus diadili!" [RUTE]
0 Komentar :
Belum ada komentar.