Internasional

Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang, WHO Peringatkan Dampak Ekstrem

Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang, WHO Peringatkan Dampak Ekstrem
Termometer digital di Madrid, Spanyol. (Gambar : The Guardian)

RUANGTENGAH.co.id, Paris - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak akhir Juni telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dilansir Euronews.

Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius di sejumlah negara memicu tekanan besar terhadap sistem kesehatan dan layanan darurat.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa banyak infrastruktur di Eropa—termasuk rumah, tempat kerja, dan sekolah—tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini.

Jerman mencatat rekor suhu baru mencapai 41,7°C, sementara Inggris, Spanyol, dan negara lain juga mengalami lonjakan panas signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Prancis Paling Terdampak, Lansia Jadi Korban Terbanyak

Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak, dengan sekitar 1.000 kematian tambahan dilaporkan sejak 24 Juni. Sebagian besar korban berasal dari kelompok usia lanjut, dengan sekitar 85 persen berusia di atas 65 tahun.

Wilayah seperti Île-de-France, Nouvelle-Aquitaine, hingga Normandy berada dalam status peringatan panas merah selama beberapa hari. Negara itu bahkan mencatat hari terpanas dalam sejarah, dengan suhu rata-rata harian mencapai 30°C.

Kondisi ini memaksa pemerintah mengambil langkah darurat, termasuk membatasi aktivitas publik. Di Paris, konsumsi alkohol di ruang publik dilarang sementara, sejumlah acara besar ditunda, dan ikon wisata seperti Menara Eiffel serta Museum Louvre ditutup lebih awal.

Lonjakan suhu juga memicu insiden tragis, termasuk kematian seorang pria yang tenggelam di kanal kota dan seorang pesepak bola muda yang meninggal di Sungai Rhône.

Tekanan Layanan Darurat dan Ancaman Berkelanjutan

Gelombang panas telah meningkatkan jumlah panggilan darurat secara signifikan, membuat rumah sakit dan petugas pertolongan pertama kewalahan.

Warga berusaha mencari perlindungan dari panas ekstrem dengan berkumpul di taman, kanal, dan area terbuka lainnya, meski otoritas memperingatkan risiko keselamatan.

Di Spanyol, ratusan kematian juga diduga terkait suhu ekstrem dalam beberapa hari terakhir, sementara Inggris mencatat hari terpanas di bulan Juni sepanjang sejarah.

Para ahli memperingatkan bahwa gelombang panas seperti ini berpotensi menjadi lebih sering dan intens di masa depan. WHO menegaskan perlunya langkah adaptasi yang lebih cepat untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan, dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Gelombang panas kali ini menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang tengah dihadapi dunia saat ini. [RT/EURONEWS]

 

0 Komentar :

Belum ada komentar.