Nasional

Khutbah Idul Fitri KH Khariri Makmun : Ajakan Introspeksi Diri di Tengah Realitas Dunia

Khutbah Idul Fitri KH Khariri Makmun : Ajakan Introspeksi Diri di Tengah Realitas Dunia
KH Khariri Makmun, Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

RUANGTENGAH.co.id, Bogor - Suasana Idul Fitri di Masjid Harakatul Jannah, Ciawi, Bogor, hari ini Sabtu (21/2/2026) berlangsung penuh haru dan refleksi mendalam.

 

Di tengah gema takbir yang mengiringi pagi hari raya, KH. Khariri Makmun, Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menyampaikan khutbah yang mengajak jamaah tidak hanya merayakan kemenangan Ramadan, tetapi juga merenungi kondisi diri dan dunia.

 

Sejak awal, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan puncak dari perjalanan spiritual selama Ramadan. Bulan suci digambarkannya sebagai “tamu agung” yang datang membawa rahmat, menghadirkan keberkahan, dan pergi meninggalkan kerinduan.

 

Namun, ia mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah bagaimana Ramadan dilalui, melainkan apa yang tersisa setelahnya dalam diri setiap Muslim.

 

Ukuran Keberhasilan Ramadan

 

Dalam khutbahnya, KH. Khariri menekankan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan selama sebulan, tetapi dari perubahan yang bertahan setelahnya.

 

Ia mengutip pandangan ulama klasik bahwa tanda diterimanya amal adalah keberlanjutan kebaikan. Jika seseorang tetap menjaga salat, lisan, dan hatinya setelah Ramadan, maka ibadahnya benar-benar membekas. Sebaliknya, jika kembali pada kelalaian, maka Ramadan hanya berlalu secara fisik tanpa menyentuh hati.

 

Untuk menggambarkan hal tersebut, ia menggunakan analogi sederhana: Ramadan seperti hujan. Tanah yang subur akan menumbuhkan kehidupan, sementara tanah yang rusak tidak akan menyisakan bekas apa pun dari air yang turun.

 

Sorotan Krisis Global

 

Khutbah tersebut tidak hanya menyoroti dimensi personal, tetapi juga mengajak jamaah melihat kondisi dunia. KH. Khariri mengingatkan tentang berbagai konflik, krisis kemanusiaan, dan penderitaan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

 

Ia menggambarkan kontras yang tajam: di satu tempat, Idul Fitri dirayakan dengan kelimpahan, sementara di tempat lain, banyak orang kehilangan keluarga bahkan kesulitan mendapatkan makanan.

 

Menurutnya, akar dari berbagai krisis tersebut bukanlah kekurangan ilmu atau teknologi, melainkan rusaknya hati manusia—ditandai oleh keserakahan, keangkuhan, dan hilangnya empati.

Ia juga menyinggung ayat Al-Qur’an tentang kerusakan di bumi akibat ulah manusia, yang menurutnya menunjukkan bahwa kehancuran yang terjadi saat ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari ambisi dan kekuasaan yang tidak terkendali.

 

Idul Fitri sebagai Kembali ke Fitrah

 

Dalam bagian inti khutbah, KH. Khariri menegaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada fitrah—yakni kondisi manusia yang bersih dari sifat zalim, rakus, dan sombong.

Namun, ia mengingatkan bahwa fitrah tersebut kerap tertutup oleh lingkungan, ambisi, dan hawa nafsu. Di sinilah Ramadan berperan sebagai proses “reset” yang melatih manusia untuk mengendalikan diri.

 

Menurutnya, kemampuan menahan lapar, amarah, dan keinginan selama Ramadan merupakan fondasi utama dalam membangun kekuatan sejati manusia—bukan kekuatan fisik atau kekuasaan.

 

Ia juga mengkritik cara pandang modern yang mengukur kemajuan hanya dari aspek teknologi. Menurutnya, dunia saat ini tidak kekurangan kecanggihan, tetapi kekurangan nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang dan keadilan.

 

Tiga Pesan untuk Jamaah

 

Menutup khutbahnya, KH. Khariri menyampaikan tiga pesan penting kepada jamaah.

 

Pertama, pentingnya menjaga konsistensi (istiqamah) setelah Ramadan, karena ujian sesungguhnya justru dimulai setelah bulan suci berakhir. Kedua, pengendalian hawa nafsu sebagai kunci keselamatan, mengingat banyak persoalan dunia berakar dari kegagalan manusia mengendalikan diri.

 

Ketiga, memulai perubahan dari diri sendiri. Ia menegaskan bahwa meskipun seseorang tidak mampu menghentikan konflik global, setiap individu dapat menghentikan kebencian dalam dirinya dan menebarkan kebaikan di lingkungan terdekat.

 

Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

 

Di tengah suasana hari raya yang penuh kegembiraan, pesan yang disampaikan terasa kuat dan mendalam: kemenangan sejati bukan hanya pada selesainya ibadah puasa, tetapi pada kemampuan menjaga hati dan kemanusiaan setelahnya. [RUTE]

0 Komentar :

Belum ada komentar.